Ketahui 13 Manfaat Manggis yang Bikin Kamu Penasaran

Rabu, 16 Juli 2025 oleh journal

Ketahui 13 Manfaat Manggis yang Bikin Kamu Penasaran

Manggis (Garcinia mangostana L.) adalah buah tropis eksotis yang dikenal sebagai "Ratu Buah" karena rasanya yang lezat dan profil nutrisinya yang kaya.

Berasal dari Asia Tenggara, buah ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai kondisi kesehatan.

Bagian buah yang paling sering dikonsumsi adalah daging buah putihnya, namun kulit buahnya, atau perikarp, juga kaya akan senyawa bioaktif yang menjadi fokus banyak penelitian ilmiah.

Kandungan fitokimia yang melimpah, terutama senyawa xanthone, menjadikannya subjek menarik dalam studi nutrisi dan farmakologi modern.

manfaat makan buah manggis

  1. Kaya Antioksidan Kuat

    Manggis mengandung sejumlah besar antioksidan, terutama dari kelompok senyawa xanthone seperti alpha-mangostin dan gamma-mangostin.

    Antioksidan ini berperan penting dalam menetralkan radikal bebas dalam tubuh, yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan berkontribusi pada penuaan serta perkembangan penyakit kronis.

    Konsumsi rutin dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari stres oksidatif, suatu kondisi yang terkait erat dengan berbagai gangguan kesehatan.

    Studi dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry pada tahun 2009 menyoroti potensi antioksidan tinggi pada ekstrak perikarp manggis.

  2. Potensi Anti-inflamasi

    Senyawa xanthone dalam manggis memiliki sifat anti-inflamasi yang signifikan, yang dapat membantu mengurangi peradangan kronis di dalam tubuh. Peradangan kronis merupakan pemicu utama berbagai penyakit serius seperti penyakit jantung, diabetes, dan kanker.

    Konsumsi buah manggis dapat berkontribusi pada penurunan respons inflamasi, dengan menekan jalur sinyal pro-inflamasi tertentu.

    Penelitian in vitro dan in vivo telah menunjukkan kemampuan ekstrak manggis untuk menghambat enzim COX-2, mirip dengan beberapa obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS).

  3. Meningkatkan Kekebalan Tubuh

    Kandungan vitamin C dan serat yang ditemukan dalam manggis, bersama dengan xanthone, berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh yang kuat.

    Vitamin C adalah antioksidan penting yang diperlukan untuk fungsi sel-sel kekebalan, sementara serat mendukung kesehatan mikrobioma usus, yang secara langsung berkaitan dengan imunitas.

    Konsumsi buah manggis secara teratur dapat membantu tubuh melawan infeksi dan penyakit, meningkatkan respons imun terhadap patogen. Kemampuan adaptogenik manggis juga dikaitkan dengan peningkatan daya tahan tubuh.

  4. Mendukung Kesehatan Kulit

    Antioksidan dan sifat anti-inflamasi manggis sangat bermanfaat bagi kesehatan kulit. Senyawa ini dapat membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan radiasi UV, yang merupakan penyebab utama penuaan dini dan masalah kulit lainnya.

    Selain itu, sifat anti-inflamasinya dapat membantu mengurangi jerawat dan kondisi kulit meradang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak manggis dapat menghambat aktivitas tirosinase, enzim yang terlibat dalam produksi melanin, berpotensi membantu mengurangi hiperpigmentasi.

  5. Potensi Antikanker

    Beberapa studi laboratorium menunjukkan bahwa xanthone dari manggis memiliki sifat antikanker yang menjanjikan, termasuk kemampuan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker, menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel kanker, dan mencegah metastasis.

    Meskipun sebagian besar penelitian dilakukan pada kultur sel dan hewan, hasilnya menunjukkan potensi manggis sebagai agen kemopreventif atau adjuvant dalam terapi kanker.

    Studi yang diterbitkan di BMC Complementary and Alternative Medicine pada tahun 2012 membahas potensi antikanker dari alpha-mangostin pada sel kanker payudara.

  6. Menjaga Kesehatan Jantung

    Manggis dapat berkontribusi pada kesehatan jantung melalui beberapa mekanisme, termasuk penurunan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat), pengurangan tekanan darah, dan peningkatan fungsi pembuluh darah.

    Sifat antioksidan dan anti-inflamasinya membantu mencegah kerusakan oksidatif pada pembuluh darah dan mengurangi risiko aterosklerosis. Kandungan kaliumnya juga penting untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, yang krusial untuk fungsi jantung yang sehat.

    Integrasi manggis dalam diet dapat menjadi bagian dari strategi gaya hidup sehat untuk jantung.

  7. Mengontrol Kadar Gula Darah

    Manggis telah diteliti karena potensinya dalam membantu mengelola kadar gula darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa dalam manggis dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mengurangi penyerapan glukosa di usus.

    Serat yang terkandung dalam buah ini juga membantu memperlambat penyerapan gula, mencegah lonjakan kadar gula darah setelah makan.

    Ini menjadikan manggis sebagai buah yang berpotensi bermanfaat bagi penderita diabetes atau mereka yang berisiko tinggi terkena kondisi tersebut. Sebuah studi di Journal of Nutrition pada tahun 2018 mengindikasikan efek positif manggis pada resistensi insulin.

  8. Meningkatkan Kesehatan Pencernaan

    Kandungan serat yang tinggi dalam manggis sangat baik untuk kesehatan sistem pencernaan. Serat membantu melancarkan pergerakan usus, mencegah sembelit, dan mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus.

    Selain itu, sifat anti-inflamasi manggis dapat membantu meredakan peradangan pada saluran pencernaan, seperti pada kasus sindrom iritasi usus besar (IBS). Konsumsi serat yang cukup penting untuk menjaga kesehatan mikrobioma usus dan mencegah berbagai gangguan pencernaan.

  9. Membantu Penurunan Berat Badan

    Manggis adalah buah rendah kalori dan kaya serat, menjadikannya pilihan yang baik untuk mereka yang berusaha menurunkan atau menjaga berat badan. Serat memberikan rasa kenyang lebih lama, mengurangi keinginan untuk makan berlebihan.

    Selain itu, potensi manggis dalam meningkatkan metabolisme lemak dan mengurangi peradangan dapat berkontribusi pada manajemen berat badan yang lebih efektif.

    Meskipun bukan solusi tunggal, manggis dapat menjadi bagian dari diet seimbang untuk mencapai tujuan berat badan yang sehat.

  10. Mendukung Kesehatan Otak

    Antioksidan dalam manggis dapat melindungi sel-sel otak dari kerusakan oksidatif, yang merupakan faktor penting dalam perkembangan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

    Sifat anti-inflamasinya juga dapat mengurangi peradangan saraf, yang sering dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif. Konsumsi manggis secara teratur dapat membantu menjaga fungsi kognitif dan memori seiring bertambahnya usia.

    Penelitian awal menunjukkan bahwa xanthone dapat menembus sawar darah otak dan memberikan efek neuroprotektif.

  11. Berpotensi sebagai Agen Anti-Alergi

    Beberapa studi menunjukkan bahwa senyawa dalam manggis, khususnya xanthone, memiliki sifat anti-alergi. Senyawa ini dapat membantu menghambat pelepasan histamin dan mediator inflamasi lainnya yang terlibat dalam reaksi alergi.

    Dengan menekan respons imun yang berlebihan, manggis berpotensi mengurangi gejala alergi seperti gatal-gatal, ruam, atau masalah pernapasan. Meskipun penelitian lebih lanjut pada manusia diperlukan, temuan awal cukup menjanjikan untuk eksplorasi lebih lanjut.

  12. Sifat Antimikroba dan Antijamur

    Xanthone dalam manggis juga telah menunjukkan aktivitas antimikroba dan antijamur terhadap berbagai patogen. Studi laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak manggis dapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti Staphylococcus aureus dan jamur seperti Candida albicans.

    Sifat ini menjadikan manggis berpotensi dalam memerangi infeksi dan mendukung kesehatan mikrobioma. Aplikasi topikal ekstrak manggis juga sedang dieksplorasi untuk kondisi kulit yang disebabkan oleh infeksi mikroba.

  13. Mendukung Kesehatan Tulang

    Manggis mengandung beberapa nutrisi penting untuk kesehatan tulang, seperti vitamin C, mangan, dan magnesium. Vitamin C berperan dalam sintesis kolagen, matriks protein yang membentuk tulang.

    Mangan terlibat dalam pembentukan tulang dan metabolisme kalsium, sementara magnesium penting untuk kepadatan tulang. Konsumsi manggis dapat berkontribusi pada pemeliharaan kepadatan tulang dan pencegahan osteoporosis, terutama pada kelompok usia yang lebih tua.

    Dukungan antioksidan juga membantu mengurangi kerusakan tulang akibat stres oksidatif.

Dalam konteks aplikasi klinis, beberapa studi awal telah mencoba mengevaluasi dampak konsumsi manggis pada kondisi kesehatan tertentu.

Misalnya, sebuah uji coba terkontrol plasebo yang dipublikasikan dalam Nutrition Journal pada tahun 2016 meneliti efek jus manggis pada penanda inflamasi dan antioksidan pada individu sehat.

Hasilnya menunjukkan peningkatan kapasitas antioksidan dan penurunan kadar protein C-reaktif, indikator peradangan, setelah konsumsi jus manggis secara teratur. Temuan ini memberikan dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang peran manggis dalam mengurangi risiko penyakit terkait inflamasi.

Penelitian lain berfokus pada potensi manggis dalam manajemen berat badan.

Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Obesity & Weight Loss Therapy pada tahun 2015 melaporkan bahwa suplementasi ekstrak manggis pada individu dengan obesitas moderat menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok plasebo.

Meskipun mekanisme pastinya masih perlu dijelaskan lebih lanjut, hasil ini menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dalam manggis dapat memengaruhi metabolisme lemak dan nafsu makan, mendukung upaya penurunan berat badan sebagai bagian dari intervensi gaya hidup komprehensif.

Aspek kesehatan kulit juga menjadi area menarik bagi penelitian manggis.

Dalam sebuah studi yang dimuat di Phytotherapy Research pada tahun 2011, ekstrak manggis topikal ditemukan efektif dalam mengurangi lesi jerawat pada pasien dengan jerawat ringan hingga sedang.

Sifat antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dan anti-inflamasi manggis diyakini berkontribusi pada efek terapeutik ini. Menurut Dr. L.P.

Lim dari Universitas Sains Malaysia, "Potensi manggis sebagai agen dermatologis sangat menjanjikan, mengingat profil keamanannya dan mekanisme aksi multifasetnya."

Untuk penderita diabetes tipe 2, potensi manggis dalam mengelola kadar gula darah telah menjadi subjek investigasi.

Sebuah studi percontohan pada tahun 2017 menunjukkan bahwa konsumsi ekstrak manggis dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan memperbaiki profil glikemik pada sekelompok kecil pasien.

Namun, para peneliti menekankan bahwa studi dengan sampel yang lebih besar dan durasi yang lebih lama diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan ini dan menetapkan dosis yang optimal. Ini menunjukkan perlunya kehati-hatian dalam menginterpretasikan hasil awal ini.

Meskipun banyak penelitian awal berfokus pada ekstrak atau suplemen, penting untuk dicatat bahwa konsumsi buah manggis utuh juga memberikan manfaat sinergis dari semua nutrisi dan seratnya.

Menurut ahli gizi, "Buah utuh menyediakan matriks nutrisi yang kompleks yang tidak selalu dapat direplikasi oleh suplemen tunggal, sehingga efeknya bisa lebih holistik." Pendekatan ini mendukung gagasan bahwa makanan utuh harus menjadi prioritas dalam diet sehat.

Aspek keamanan dan efek samping juga telah menjadi pertimbangan. Secara umum, konsumsi buah manggis dalam jumlah wajar dianggap aman bagi kebanyakan orang.

Namun, beberapa laporan kasus telah mencatat potensi interaksi dengan obat-obatan tertentu, terutama antikoagulan, karena sifat antikoagulan ringan dari xanthone.

Oleh karena itu, individu yang mengonsumsi obat-obatan resep harus berkonsultasi dengan profesional kesehatan sebelum mengonsumsi manggis dalam jumlah besar atau dalam bentuk suplemen. Kehati-hatian adalah kunci dalam semua intervensi diet.

Dalam konteks pengobatan tradisional, manggis telah lama digunakan untuk mengatasi diare, infeksi kulit, dan peradangan. Penggunaan empiris ini seringkali menjadi titik awal bagi penelitian ilmiah modern untuk mengidentifikasi senyawa aktif dan memvalidasi klaim kesehatan.

Misalnya, kemampuan perikarp manggis untuk meredakan diare dapat dikaitkan dengan sifat antimikroba dan astringennya, yang mengurangi pertumbuhan patogen dan menenangkan saluran pencernaan. Validasi ilmiah dari praktik tradisional ini memperkuat nilai manggis.

Meskipun banyak data positif, masih ada tantangan dalam menggeneralisasi temuan dari studi in vitro atau hewan ke manusia. Dosis, bioavailabilitas senyawa, dan interaksi dengan faktor diet lainnya adalah variabel yang perlu dipertimbangkan. Dr. R. K.

Singh, seorang peneliti dari Universitas Delhi, menyatakan, "Transisi dari model laboratorium ke uji coba klinis manusia adalah langkah krusial yang memerlukan metodologi yang ketat dan sampel yang representatif untuk memastikan relevansi klinis."

Secara keseluruhan, diskusi kasus ini menyoroti bahwa manggis memiliki potensi besar sebagai buah fungsional dengan berbagai manfaat kesehatan.

Namun, sebagaimana layaknya penelitian ilmiah, diperlukan lebih banyak uji klinis terkontrol dengan desain yang kuat dan ukuran sampel yang memadai untuk mengkonfirmasi dan mengukur secara presisi efek-efek ini pada populasi manusia.

Kolaborasi antara ilmuwan dan praktisi kesehatan akan mempercepat pemahaman kita tentang manggis. Ini adalah langkah penting untuk menerjemahkan temuan laboratorium menjadi rekomendasi kesehatan yang praktis dan berbasis bukti.

Tips dan Detail Konsumsi Buah Manggis

  • Cara Memilih Manggis yang Baik

    Pilihlah manggis dengan kulit yang halus, sedikit mengkilap, dan berwarna ungu gelap merata. Tekan sedikit kulitnya; manggis yang matang akan terasa sedikit lunak namun tidak lembek atau keras.

    Hindari buah yang memiliki bercak keras atau retakan, karena ini bisa menandakan buah sudah busuk atau terlalu tua.

    Bagian kelopak di ujung buah juga bisa memberikan petunjuk; semakin banyak kelopak, semakin banyak segmen daging buah di dalamnya.

  • Cara Mengonsumsi Manggis

    Untuk membuka manggis, pegang buah di satu tangan dan gunakan pisau tajam untuk membuat sayatan dangkal di sekitar bagian tengah buah. Jangan memotong terlalu dalam agar tidak merusak daging buah.

    Setelah sayatan melingkar dibuat, putar kedua belahan buah berlawanan arah hingga terpisah. Daging buah putih yang lezat siap dinikmati. Pastikan untuk tidak mengonsumsi kulitnya secara langsung karena sangat pahit, meskipun ekstraknya memiliki banyak manfaat.

  • Penyimpanan yang Tepat

    Manggis paling baik disimpan pada suhu kamar dan akan bertahan selama beberapa hari.

    Untuk memperpanjang masa simpannya, masukkan buah ke dalam kantong kertas atau plastik berlubang dan simpan di lemari es, di mana ia dapat bertahan hingga satu atau dua minggu.

    Hindari menyimpan manggis di tempat yang terlalu dingin atau terlalu lembap karena dapat mempercepat pembusukan. Buah yang matang sempurna sebaiknya segera dikonsumsi untuk mendapatkan rasa terbaik.

  • Potensi Efek Samping dan Interaksi

    Meskipun manggis umumnya aman, konsumsi berlebihan, terutama suplemen ekstrak manggis, dapat menyebabkan beberapa efek samping ringan seperti sembelit atau diare.

    Individu yang mengonsumsi obat pengencer darah (antikoagulan) harus berhati-hati dan berkonsultasi dengan dokter, karena xanthone berpotensi meningkatkan efek antikoagulan.

    Wanita hamil atau menyusui juga disarankan untuk berkonsultasi sebelum mengonsumsi suplemen manggis, mengingat data keamanan yang terbatas pada populasi ini.

  • Integrasi dalam Diet Sehari-hari

    Manggis dapat dinikmati sebagai buah segar, ditambahkan ke salad buah, smoothie, atau jus. Daging buahnya yang manis dan sedikit asam membuatnya menjadi tambahan yang menyegarkan.

    Meskipun kulitnya tidak dimakan langsung, ekstrak kulit manggis tersedia dalam bentuk suplemen, namun disarankan untuk memprioritaskan konsumsi buah utuh untuk mendapatkan spektrum nutrisi yang lebih luas.

    Variasi dalam konsumsi buah dan sayur penting untuk diet seimbang dan sehat.

Penelitian ilmiah mengenai manfaat buah manggis telah menggunakan berbagai desain studi untuk menguji hipotesisnya.

Studi in vitro, yang dilakukan di laboratorium menggunakan kultur sel, seringkali menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif dan mekanisme aksi potensial.

Misalnya, studi yang dipublikasikan dalam Bioorganic & Medicinal Chemistry pada tahun 2008 mengidentifikasi kemampuan alpha-mangostin untuk menginduksi apoptosis pada sel kanker manusia, memberikan bukti awal tentang potensi antikankernya.

Metode yang digunakan melibatkan pengujian ekstrak manggis pada lini sel kanker yang berbeda untuk mengamati efeknya pada proliferasi dan viabilitas sel.

Selanjutnya, penelitian in vivo menggunakan model hewan telah memberikan wawasan tentang efek manggis dalam organisme hidup.

Sebuah studi di Journal of Nutritional Biochemistry pada tahun 2010 menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak manggis pada tikus obesitas dapat mengurangi penumpukan lemak dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Sampel yang digunakan adalah tikus yang diberi diet tinggi lemak, dan metode pengukurannya meliputi analisis berat badan, komposisi tubuh, serta penanda metabolik. Hasil ini memberikan indikasi bahwa manggis mungkin memiliki relevansi fisiologis.

Uji klinis pada manusia, meskipun masih terbatas, merupakan bukti paling kuat untuk mengkonfirmasi manfaat kesehatan.

Sebuah uji coba acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo yang dipublikasikan di Phytotherapy Research pada tahun 2016 melibatkan sekelompok partisipan dengan sindrom metabolik yang mengonsumsi suplemen ekstrak manggis selama 26 minggu.

Studi ini menemukan perbaikan signifikan dalam penanda inflamasi dan resistensi insulin pada kelompok yang mengonsumsi manggis, dibandingkan dengan kelompok plasebo. Desain studi ini sangat penting karena meminimalkan bias dan meningkatkan validitas temuan.

Meskipun demikian, ada beberapa pandangan yang berlawanan atau keterbatasan yang perlu diakui. Sebagian besar penelitian yang menunjukkan manfaat kuat dari manggis dilakukan pada ekstrak terkonsentrasi, seringkali menggunakan perikarp, bukan daging buah utuh yang biasa dikonsumsi.

Konsentrasi senyawa aktif (xanthone) dalam ekstrak jauh lebih tinggi daripada yang ditemukan dalam buah utuh, sehingga efek yang diamati pada studi laboratorium mungkin tidak secara langsung berlaku untuk konsumsi buah manggis segar dalam jumlah normal.

Ini menimbulkan pertanyaan tentang dosis efektif dari konsumsi buah utuh.

Selain itu, sebagian besar uji klinis pada manusia masih berskala kecil dan berdurasi pendek, yang membatasi kemampuan untuk menarik kesimpulan yang kuat mengenai efek jangka panjang atau pada populasi yang lebih luas.

Kurangnya standarisasi dalam formulasi ekstrak manggis yang digunakan dalam penelitian juga menyulitkan perbandingan antar studi dan replikasi hasil.

Oleh karena itu, meskipun data awal sangat menjanjikan, diperlukan lebih banyak penelitian lanjutan yang lebih besar, multi-pusat, dan terstandardisasi untuk secara definitif mengkonfirmasi manfaat kesehatan manggis.

Penekanan harus pada studi yang menggunakan buah utuh atau dosis yang relevan secara dietetik.

Rekomendasi

Berdasarkan analisis bukti ilmiah yang ada, konsumsi buah manggis dapat direkomendasikan sebagai bagian dari diet seimbang dan sehat untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Untuk memperoleh manfaat antioksidan dan anti-inflamasi, disarankan untuk mengonsumsi buah manggis segar secara teratur, idealnya 1-2 buah per hari, sebagai camilan atau bagian dari hidangan buah.

Prioritaskan buah utuh daripada suplemen, kecuali jika disarankan oleh profesional kesehatan untuk kondisi tertentu, karena buah utuh menyediakan serat dan spektrum nutrisi yang lebih lengkap.

Bagi individu dengan kondisi kesehatan kronis seperti diabetes atau penyakit jantung, atau mereka yang sedang mengonsumsi obat-obatan, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat dianjurkan sebelum meningkatkan asupan manggis secara signifikan atau mengonsumsi suplemen ekstrak.

Ini untuk memastikan tidak ada interaksi obat atau efek samping yang tidak diinginkan. Pendekatan hati-hati dan terinformasi akan memaksimalkan manfaat sekaligus meminimalkan risiko.

Integrasi manggis ke dalam pola makan dapat dilakukan dengan menambahkannya ke dalam salad buah, smoothie, atau sebagai hidangan penutup yang menyegarkan. Variasi dalam konsumsi buah dan sayur berwarna-warni akan memastikan asupan berbagai fitonutrien.

Mengingat profil nutrisinya yang kaya dan potensi manfaat kesehatannya, manggis adalah tambahan yang berharga untuk diet yang berorientasi pada kesehatan dan pencegahan penyakit.

Manggis adalah buah tropis yang kaya akan senyawa bioaktif, terutama xanthone, yang telah menunjukkan beragam manfaat kesehatan melalui penelitian ilmiah.

Dari sifat antioksidan dan anti-inflamasi yang kuat hingga potensi antikanker, dukungan kekebalan tubuh, dan kontribusi terhadap kesehatan pencernaan, jantung, serta kulit, manggis menawarkan profil nutrisi yang mengesankan.

Meskipun banyak temuan positif berasal dari studi in vitro dan model hewan, serta uji klinis awal pada manusia, bukti yang ada sangat mendukung perannya sebagai makanan fungsional.

Meskipun demikian, penting untuk mengakui bahwa sebagian besar studi menggunakan ekstrak terkonsentrasi, dan penelitian lebih lanjut dengan uji klinis skala besar pada manusia yang mengonsumsi buah utuh diperlukan untuk mengkonfirmasi dosis dan efek jangka panjang secara definitif.

Arah penelitian masa depan harus berfokus pada elucidasi mekanisme molekuler yang lebih spesifik, studi intervensi jangka panjang pada populasi yang beragam, dan pengembangan pedoman konsumsi yang berbasis bukti.

Dengan penelitian yang berkelanjutan, potensi penuh manggis sebagai agen peningkat kesehatan dapat lebih dipahami dan dimanfaatkan secara optimal dalam praktik klinis dan rekomendasi diet.