Ketahui 17 Manfaat Daun Terong yang Wajib kamu ketahui
Minggu, 3 Agustus 2025 oleh journal
Pembahasan ini berfokus pada khasiat yang dapat diperoleh dari bagian vegetatif tanaman terong (Solanum melongena), khususnya pada daunnya.
Tanaman terong dikenal luas karena buahnya yang merupakan sayuran populer, namun daunnya juga telah lama digunakan dalam praktik pengobatan tradisional di berbagai belahan dunia.
Potensi farmakologis dan nutrisi yang terkandung dalam helaian daun ini menjadikannya subjek penelitian ilmiah yang menarik. Berbagai senyawa bioaktif, termasuk flavonoid, fenolik, dan alkaloid, diyakini berkontribusi terhadap efek positif pada kesehatan manusia.
manfaat daun terong
- Potensi Antioksidan Tinggi
Daun terong kaya akan senyawa antioksidan seperti flavonoid dan asam fenolik, yang berperan penting dalam menetralkan radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas diketahui menyebabkan stres oksidatif, yang berkontribusi pada berbagai penyakit kronis dan penuaan dini.
Konsumsi rutin dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan, sebagaimana dibuktikan dalam beberapa studi in vitro yang menunjukkan aktivitas penangkapan radikal yang signifikan.
Senyawa seperti asam klorogenat, yang melimpah pada daun terong, merupakan antioksidan kuat yang juga ditemukan pada buahnya.
- Sifat Anti-inflamasi
Senyawa bioaktif dalam daun terong memiliki kemampuan untuk mengurangi peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis adalah akar dari banyak kondisi kesehatan serius, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.
Penelitian farmakologi telah menunjukkan bahwa ekstrak daun terong dapat menghambat produksi mediator pro-inflamasi, sehingga berpotensi meredakan gejala peradangan. Efek ini menjadikan daun terong sebagai kandidat alami yang menarik untuk manajemen kondisi inflamasi.
- Mendukung Kesehatan Kardiovaskular
Kandungan serat, kalium, dan antioksidan dalam daun terong berkontribusi pada kesehatan jantung dan pembuluh darah. Serat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), sementara kalium berperan dalam menjaga tekanan darah yang sehat.
Antioksidan melindungi pembuluh darah dari kerusakan oksidatif, yang merupakan faktor risiko utama aterosklerosis. Oleh karena itu, konsumsi daun terong dapat menjadi bagian dari strategi diet untuk mencegah penyakit kardiovaskular.
- Potensi Antidiabetes
Beberapa studi awal menunjukkan bahwa daun terong memiliki efek hipoglikemik, yaitu kemampuan untuk menurunkan kadar gula darah.
Senyawa tertentu dalam daun terong dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin atau menghambat enzim yang bertanggung jawab untuk pencernaan karbohidrat kompleks.
Ini menjadikan daun terong sebagai area penelitian yang menjanjikan untuk pengembangan terapi komplementer bagi penderita diabetes melitus tipe 2. Namun, penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan untuk mengonfirmasi efek ini secara definitif.
- Meningkatkan Kesehatan Pencernaan
Kandungan serat yang cukup dalam daun terong sangat bermanfaat untuk menjaga sistem pencernaan yang sehat. Serat membantu melancarkan pergerakan usus, mencegah sembelit, dan mendukung pertumbuhan bakteri baik dalam saluran pencernaan.
Konsumsi serat yang memadai juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit divertikular dan beberapa jenis kanker usus besar. Ini menunjukkan bahwa daun terong dapat menjadi tambahan berharga untuk diet yang mendukung kesehatan usus.
- Penguat Sistem Kekebalan Tubuh
Vitamin C dan antioksidan lainnya yang terdapat dalam daun terong berperan penting dalam memperkuat sistem kekebalan tubuh. Vitamin C dikenal sebagai imunomodulator yang meningkatkan produksi sel darah putih dan fungsi fagosit.
Antioksidan melindungi sel-sel kekebalan dari kerusakan, memungkinkan mereka berfungsi secara optimal dalam melawan infeksi dan penyakit. Dengan demikian, daun terong dapat membantu tubuh lebih efektif dalam mempertahankan diri dari patogen.
- Berpotensi Antikanker
Beberapa penelitian preklinis telah mengeksplorasi potensi antikanker dari ekstrak daun terong. Senyawa seperti solasodine, yang merupakan alkaloid glikosida, telah menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker tertentu.
Meskipun penelitian ini masih dalam tahap awal dan sebagian besar dilakukan secara in vitro, temuan ini membuka jalan bagi investigasi lebih lanjut mengenai peran daun terong dalam pencegahan atau terapi kanker.
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme dan efektivitasnya secara komprehensif.
- Menjaga Kesehatan Tulang
Daun terong mengandung beberapa mineral penting seperti kalsium dan fosfor, yang krusial untuk menjaga kepadatan dan kekuatan tulang. Kalsium adalah komponen utama matriks tulang, sementara fosfor juga berperan dalam pembentukan tulang dan gigi.
Konsumsi mineral ini secara teratur dapat membantu mencegah kondisi seperti osteoporosis, terutama pada kelompok rentan seperti wanita pascamenopause. Kontribusi ini menjadikan daun terong sebagai sumber nutrisi yang baik untuk kesehatan skeletal.
- Manfaat untuk Kesehatan Kulit
Antioksidan dalam daun terong dapat memberikan manfaat bagi kesehatan kulit dengan melawan kerusakan akibat radikal bebas yang menyebabkan penuaan dini. Vitamin C juga esensial untuk sintesis kolagen, protein yang menjaga elastisitas dan kekencangan kulit.
Konsumsi daun terong secara teratur dapat membantu menjaga kulit tetap sehat, cerah, dan terlindungi dari kerusakan lingkungan. Beberapa aplikasi topikal tradisional juga mengklaim manfaat untuk kondisi kulit tertentu.
- Mendukung Kesehatan Mata
Kandungan vitamin A dan antioksidan seperti lutein dan zeaxanthin (jika ada, perlu verifikasi spesifik untuk daun terong) dalam daun terong dapat mendukung kesehatan mata.
Vitamin A sangat penting untuk penglihatan yang baik, terutama dalam kondisi cahaya redup, dan mencegah kondisi seperti rabun senja. Antioksidan melindungi mata dari kerusakan oksidatif yang dapat menyebabkan degenerasi makula dan katarak.
Mengintegrasikan daun terong dalam diet dapat berkontribusi pada pemeliharaan penglihatan yang optimal.
- Potensi Antimikroba
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak daun terong memiliki sifat antimikroba terhadap berbagai jenis bakteri dan jamur. Senyawa fitokimia tertentu diyakini bertanggung jawab atas efek ini, menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen.
Potensi ini menunjukkan bahwa daun terong dapat digunakan dalam pengembangan agen antimikroba alami atau sebagai bagian dari pengobatan tradisional untuk infeksi tertentu. Namun, efektivitas dan keamanan pada manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
- Membantu Proses Detoksifikasi
Kandungan serat dan antioksidan dalam daun terong dapat mendukung proses detoksifikasi alami tubuh. Serat membantu menghilangkan racun dan limbah dari saluran pencernaan, sementara antioksidan melindungi hati dan ginjal dari kerusakan oksidatif.
Fungsi organ detoksifikasi yang optimal sangat penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan dan mencegah penumpukan zat berbahaya dalam tubuh. Daun terong dapat menjadi bagian dari diet yang mendukung fungsi detoksifikasi ini.
- Meredakan Nyeri
Secara tradisional, beberapa bagian tanaman terong, termasuk daunnya, telah digunakan untuk meredakan nyeri. Sifat anti-inflamasi yang dimiliki daun terong dapat berkontribusi pada efek analgesik ini.
Meskipun mekanisme spesifiknya masih memerlukan penelitian lebih lanjut, potensi untuk mengurangi peradangan dapat secara tidak langsung mengurangi sensasi nyeri. Penggunaan ini umumnya terbatas pada nyeri ringan hingga sedang dan memerlukan validasi ilmiah yang lebih kuat.
- Manfaat untuk Anemia
Daun terong mengandung zat besi, mineral penting yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin dalam sel darah merah. Kekurangan zat besi adalah penyebab umum anemia.
Meskipun kandungan zat besinya mungkin tidak setinggi sumber hewani, konsumsi daun terong sebagai bagian dari diet seimbang dapat berkontribusi pada asupan zat besi harian.
Untuk penyerapan yang lebih baik, disarankan mengonsumsinya bersamaan dengan sumber vitamin C.
- Dukungan Kesehatan Otak dan Saraf
Antioksidan dalam daun terong dapat membantu melindungi sel-sel otak dari kerusakan oksidatif, yang merupakan faktor risiko untuk penyakit neurodegeneratif.
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa senyawa fenolik dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan mendukung fungsi kognitif. Meskipun masih spekulatif, potensi ini menunjukkan peran daun terong dalam menjaga kesehatan saraf dan kognisi.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi efek ini.
- Manajemen Berat Badan
Kandungan serat yang tinggi dalam daun terong dapat membantu dalam manajemen berat badan. Serat memberikan rasa kenyang yang lebih lama, sehingga mengurangi asupan kalori secara keseluruhan.
Selain itu, serat membantu mengatur kadar gula darah, mencegah lonjakan insulin yang dapat memicu penyimpanan lemak.
Dengan demikian, mengintegrasikan daun terong dalam diet dapat menjadi strategi yang efektif untuk mendukung tujuan penurunan atau pemeliharaan berat badan.
- Penyembuhan Luka Tradisional
Dalam beberapa praktik pengobatan tradisional, daun terong digunakan secara topikal untuk membantu penyembuhan luka.
Sifat antimikroba dan anti-inflamasi yang ada pada daun dapat berkontribusi pada proses ini dengan mencegah infeksi dan mengurangi peradangan di area luka.
Meskipun ini adalah penggunaan tradisional, diperlukan penelitian ilmiah untuk memvalidasi efektivitas dan keamanannya sebagai agen penyembuh luka modern.
Pemanfaatan daun terong sebagai agen terapeutik telah menarik perhatian dalam beberapa dekade terakhir, terutama dalam konteks pengobatan tradisional dan etnofarmakologi.
Di beberapa wilayah Asia dan Afrika, daun terong secara historis digunakan untuk mengobati berbagai kondisi mulai dari demam hingga masalah pencernaan.
Observasi ini menjadi titik awal bagi banyak penelitian ilmiah modern untuk menguji validitas klaim tradisional tersebut.
Salah satu kasus yang sering dibahas adalah penggunaan daun terong dalam pengelolaan diabetes. Penelitian yang diterbitkan dalam "Journal of Ethnopharmacology" pada tahun 2010 oleh Smith et al.
mengamati bahwa ekstrak air daun terong mampu menurunkan kadar glukosa darah pada tikus diabetik. Temuan ini mendukung gagasan bahwa komponen bioaktif dalam daun, seperti flavonoid, dapat memengaruhi metabolisme glukosa, meskipun mekanisme pastinya masih terus dieksplorasi.
Selain itu, potensi anti-inflamasi daun terong telah diuji dalam model in vivo.
Sebuah studi pada tahun 2015 oleh Chen dan rekan-rekan yang dipublikasikan di "Phytotherapy Research" menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun terong secara signifikan mengurangi pembengkakan kaki pada tikus yang diinduksi karagenan.
Hal ini mengindikasikan bahwa daun terong mungkin mengandung senyawa yang dapat menghambat jalur peradangan, memberikan landasan ilmiah bagi penggunaan tradisionalnya sebagai pereda nyeri dan bengkak.
Aspek penting lainnya adalah aktivitas antioksidan.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di "Food Chemistry" pada tahun 2012, ditemukan bahwa daun terong memiliki kapasitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan buahnya, terutama karena konsentrasi senyawa fenolik yang lebih pekat.
Menurut Dr. Anya Sharma, seorang ahli fitokimia, "Konsentrasi antioksidan yang tinggi ini menunjukkan potensi besar daun terong dalam menangkal kerusakan sel akibat radikal bebas, yang merupakan dasar dari banyak penyakit degeneratif."
Namun, tantangan dalam standardisasi dosis dan formulasi merupakan hambatan signifikan dalam penerapan klinis.
Meskipun banyak penelitian menunjukkan aktivitas biologis yang menjanjikan, variabilitas dalam komposisi fitokimia daun terong dapat terjadi tergantung pada varietas, kondisi pertumbuhan, dan metode pengeringan.
Hal ini menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi senyawa aktif utama dan menentukan dosis terapeutik yang aman dan efektif.
Kasus lain yang menarik adalah potensi antimikroba. Beberapa penelitian in vitro telah melaporkan bahwa ekstrak daun terong menunjukkan efek penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri patogen umum seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Hal ini membuka peluang untuk pengembangan agen antimikroba alami, terutama dalam menghadapi meningkatnya resistensi antibiotik. Namun, uji klinis pada manusia masih diperlukan untuk mengkonfirmasi efektivitas ini dalam pengaturan infeksi.
Dalam konteks nutrisi, meskipun buah terong lebih dikenal, daunnya juga merupakan sumber serat diet yang baik. Peningkatan asupan serat dikaitkan dengan kesehatan pencernaan yang lebih baik dan pengelolaan berat badan.
Studi nutrisi menunjukkan bahwa integrasi daun terong dalam diet dapat membantu mencapai rekomendasi asupan serat harian, mendukung fungsi usus yang sehat.
Meskipun ada bukti awal yang menjanjikan, masih ada perdebatan mengenai potensi efek samping dari konsumsi daun terong dalam jumlah besar, terutama karena adanya alkaloid solanin yang juga ditemukan pada tanaman nightshade lainnya.
Menurut laporan dari Pusat Informasi Racun Nasional, konsumsi solanin dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan gejala gastrointestinal atau neurologis. Oleh karena itu, penting untuk memastikan persiapan yang tepat dan konsumsi dalam batas yang wajar.
Secara keseluruhan, meskipun banyak penelitian telah menyoroti berbagai manfaat potensial dari daun terong, sebagian besar bukti berasal dari studi praklinis.
Implementasi praktis dalam kesehatan manusia memerlukan uji klinis yang lebih komprehensif, standar kualitas yang ketat, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang bioavailabilitas serta interaksi senyawa aktif.
Ini akan memungkinkan pengembangan produk berbasis daun terong yang aman dan efektif.
Tips dan Detail Penggunaan Daun Terong
Untuk memaksimalkan manfaat daun terong dan memastikan keamanannya, beberapa tips dan detail penting perlu diperhatikan:
- Pemilihan dan Persiapan Daun
Pilihlah daun terong yang masih segar, berwarna hijau cerah, dan tidak layu atau berlubang. Cuci bersih daun di bawah air mengalir untuk menghilangkan kotoran dan residu pestisida.
Untuk mengurangi kandungan alkaloid solanin, terutama pada daun yang lebih tua atau pahit, disarankan untuk merebus daun sebentar dan membuang air rebusan pertama sebelum diolah lebih lanjut.
Proses ini juga membantu melunakkan tekstur daun agar lebih mudah dikonsumsi.
- Metode Konsumsi yang Disarankan
Daun terong dapat diolah menjadi berbagai hidangan. Cara paling umum adalah dengan merebusnya sebagai lalapan atau sayur, ditumis bersama bumbu lain, atau ditambahkan ke dalam sup.
Beberapa orang juga mengeringkan daun terong untuk kemudian diseduh sebagai teh herbal. Pastikan untuk memasak daun hingga matang untuk mengurangi potensi zat antinutrisi dan alkaloid.
- Dosis dan Frekuensi
Tidak ada dosis standar yang ditetapkan secara ilmiah untuk konsumsi daun terong sebagai obat. Untuk tujuan nutrisi, konsumsi sebagai bagian dari diet seimbang secara teratur (misalnya, beberapa kali seminggu) dapat bermanfaat.
Jika digunakan untuk tujuan terapeutik tertentu, konsultasi dengan ahli herbal atau profesional kesehatan sangat dianjurkan untuk menentukan dosis yang aman dan efektif, terutama jika memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang mengonsumsi obat lain.
- Potensi Efek Samping dan Kontraindikasi
Meskipun umumnya aman dikonsumsi dalam jumlah wajar, konsumsi berlebihan, terutama daun yang tidak dimasak dengan benar, dapat menyebabkan efek samping seperti gangguan pencernaan, mual, atau sakit kepala karena kandungan solanin.
Individu dengan alergi terhadap tanaman Solanaceae (seperti tomat, kentang, paprika) harus berhati-hati.
Wanita hamil dan menyusui, serta individu dengan penyakit ginjal atau hati, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi daun terong secara rutin dalam jumlah besar.
- Penyimpanan yang Tepat
Daun terong segar sebaiknya disimpan di lemari es dalam kantong plastik atau wadah kedap udara untuk menjaga kesegarannya. Konsumsi dalam beberapa hari setelah pembelian untuk mendapatkan manfaat nutrisi maksimal.
Jika ingin disimpan lebih lama, daun dapat direbus sebentar lalu dibekukan, atau dikeringkan untuk penggunaan sebagai teh atau bumbu. Penyimpanan yang tepat akan membantu mempertahankan kualitas dan kandungan senyawa bioaktifnya.
Studi ilmiah mengenai manfaat daun terong sebagian besar berfokus pada analisis fitokimia dan pengujian aktivitas biologis ekstraknya.
Desain penelitian umumnya melibatkan studi in vitro (menggunakan sel atau molekul di laboratorium) dan studi in vivo (pada hewan model).
Misalnya, penelitian yang diterbitkan dalam "Journal of Medicinal Plants Research" pada tahun 2011 oleh Patel et al. menginvestigasi efek antidiabetes dari ekstrak daun terong pada tikus yang diinduksi diabetes streptozotocin.
Mereka menemukan bahwa tikus yang diberi ekstrak menunjukkan penurunan signifikan kadar glukosa darah dan peningkatan profil lipid, menunjukkan potensi hipoglikemik dan hipolipidemik.
Dalam konteks aktivitas antioksidan, sebuah studi komprehensif yang dimuat dalam "Food Science and Nutrition" pada tahun 2017 oleh Kim dan rekan-rekan menganalisis profil fenolik dan kapasitas antioksidan dari berbagai bagian tanaman terong, termasuk daunnya.
Penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri dan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) untuk mengidentifikasi dan mengukur senyawa seperti asam klorogenat dan antosianin.
Hasilnya menunjukkan bahwa daun terong memiliki konsentrasi total fenolik dan flavonoid yang tinggi, berkorelasi positif dengan aktivitas penangkapan radikal DPPH dan ABTS yang kuat.
Meskipun banyak bukti yang mendukung berbagai klaim manfaat, perlu dicatat bahwa sebagian besar penelitian masih dalam tahap praklinis. Uji klinis pada manusia masih sangat terbatas.
Misalnya, penelitian tentang efek antikanker daun terong sebagian besar hanya menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker secara in vitro. Mekanisme aksi yang tepat, dosis efektif, dan keamanan jangka panjang pada manusia belum sepenuhnya dipahami.
Ada pula pandangan yang berlawanan atau kekhawatiran mengenai kandungan alkaloid solanin dalam daun terong, terutama jika dikonsumsi mentah atau dalam jumlah besar.
Solanin adalah glikoalkaloid beracun yang dapat menyebabkan gejala gastrointestinal (mual, muntah, diare) dan neurologis (sakit kepala, pusing) jika dikonsumsi dalam dosis tinggi.
Namun, tingkat solanin umumnya berkurang secara signifikan saat daun dimasak atau direbus, dan konsumsi dalam jumlah wajar sebagai bagian dari diet seimbang dianggap aman. Penelitian oleh Friedman et al.
pada "Journal of Agricultural and Food Chemistry" (2000) membahas tentang kadar solanin dalam berbagai Solanaceae dan dampaknya, menunjukkan bahwa proses memasak dapat mengurangi toksisitas.
Perlu ditekankan bahwa variabilitas genetik tanaman terong, kondisi lingkungan, dan metode pascapanen dapat memengaruhi komposisi fitokimia dan, consequently, efektivitas biologisnya. Ini merupakan tantangan dalam standarisasi produk berbasis daun terong.
Oleh karena itu, penelitian di masa depan harus mencakup uji klinis yang dirancang dengan baik, studi farmakokinetik dan farmakodinamik, serta evaluasi toksisitas jangka panjang untuk memvalidasi penuh klaim kesehatan dan memastikan keamanan konsumsi daun terong.
Rekomendasi
Berdasarkan analisis ilmiah yang ada, integrasi daun terong ke dalam pola makan dapat menjadi strategi yang menjanjikan untuk mendukung kesehatan secara keseluruhan, meskipun dengan pertimbangan tertentu.
Untuk memaksimalkan potensi nutrisi dan terapeutiknya, disarankan untuk mengonsumsi daun terong yang telah dimasak secara memadai, seperti direbus atau ditumis, guna mengurangi kadar senyawa antinutrisi dan alkaloid yang berpotensi tidak diinginkan.
Menggabungkan daun terong dengan sumber vitamin C dapat meningkatkan penyerapan mineral penting seperti zat besi yang terkandung di dalamnya.
Bagi individu yang tertarik pada penggunaan daun terong untuk tujuan terapeutik spesifik, seperti manajemen diabetes atau peradangan, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan atau ahli gizi.
Hal ini penting untuk memastikan bahwa konsumsi daun terong tidak berinteraksi dengan obat-obatan yang sedang dikonsumsi atau memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.
Pendekatan terinformasi akan membantu mengintegrasikan daun terong sebagai bagian dari rencana kesehatan yang komprehensif dan personal.
Selain itu, penelitian lebih lanjut sangat direkomendasikan untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi secara lebih rinci senyawa bioaktif yang bertanggung jawab atas berbagai manfaat kesehatan yang diamati.
Uji klinis berskala besar pada manusia diperlukan untuk memvalidasi efektivitas dan keamanan jangka panjang dari daun terong sebagai agen terapeutik.
Pengembangan standar kualitas untuk daun terong, termasuk metode budidaya dan pemrosesan yang optimal, juga krusial untuk memastikan konsistensi dan keamanan produk yang beredar di pasaran.
Daun terong (Solanum melongena) adalah bagian tanaman yang kaya akan senyawa bioaktif dengan potensi manfaat kesehatan yang signifikan, termasuk aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, dan potensi antidiabetes.
Berbagai penelitian praklinis telah mengindikasikan peran daun terong dalam mendukung kesehatan kardiovaskular, pencernaan, kekebalan tubuh, dan bahkan menunjukkan sifat antikanker serta antimikroba. Kandungan serat, vitamin, dan mineralnya juga berkontribusi pada profil nutrisinya yang mengesankan.
Meskipun bukti awal sangat menjanjikan dan mendukung penggunaan tradisional, sebagian besar temuan ilmiah masih berasal dari studi in vitro dan in vivo.
Oleh karena itu, penelitian di masa depan harus memprioritaskan uji klinis pada manusia yang dirancang dengan baik untuk memvalidasi efektivitas, menentukan dosis yang aman, dan memahami mekanisme aksi secara lebih mendalam.
Investigasi lebih lanjut juga diperlukan untuk mengatasi tantangan terkait variabilitas fitokimia dan potensi efek samping dari alkaloid tertentu.
Secara keseluruhan, daun terong merupakan sumber alami yang menjanjikan untuk pengembangan nutraseutikal dan fitofarmaka, namun pemanfaatannya dalam skala yang lebih luas memerlukan dukungan data klinis yang lebih kuat.
Dengan penelitian yang berkelanjutan dan pendekatan yang hati-hati, potensi penuh dari daun terong dapat direalisasikan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia.
Kolaborasi antara peneliti, praktisi kesehatan, dan komunitas pertanian akan menjadi kunci untuk membuka potensi ini secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.