11 Manfaat Daun Kamboja yang Bikin Kamu Penasaran

Senin, 28 Juli 2025 oleh journal

11 Manfaat Daun Kamboja yang Bikin Kamu Penasaran

Botani telah lama menjadi sumber daya berharga bagi umat manusia, tidak hanya sebagai penyedia nutrisi tetapi juga sebagai gudang senyawa bioaktif dengan potensi terapeutik.

Berbagai bagian tumbuhan, termasuk akar, batang, bunga, dan daun, mengandung metabolit sekunder yang berperan penting dalam mekanisme pertahanan diri tumbuhan sekaligus menawarkan manfaat farmakologis bagi manusia.

Penelitian fitokimia modern terus mengungkap potensi tersembunyi dari flora tropis, memvalidasi penggunaan tradisional dan membuka jalan bagi pengembangan obat-obatan baru.

Pengetahuan mendalam tentang komposisi kimia dan efek biologis dari ekstrak tumbuhan menjadi krusial dalam memanfaatkan kekayaan alam ini secara optimal dan aman.

manfaat daun kamboja

  1. Potensi Anti-inflamasi

    Daun kamboja (Plumeria spp.) dikenal memiliki sifat anti-inflamasi yang signifikan, terutama berkat kandungan senyawa seperti plumerisin dan iridoid. Senyawa-senyawa ini bekerja dengan menghambat jalur inflamasi tertentu dalam tubuh, mengurangi produksi mediator pro-inflamasi.

    Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology oleh para peneliti pada tahun 2010 menunjukkan bahwa ekstrak daun kamboja dapat secara efektif meredakan peradangan pada model hewan.

    Efek ini menjadikannya kandidat potensial untuk mengatasi kondisi yang berhubungan dengan peradangan kronis.

  2. Aktivitas Antioksidan

    Kandungan flavonoid, fenolik, dan tanin yang melimpah dalam daun kamboja berkontribusi pada kemampuan antioksidannya yang kuat.

    Antioksidan berperan penting dalam menetralkan radikal bebas, molekul tidak stabil yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan berkontribusi pada penuaan serta berbagai penyakit degeneratif.

    Studi yang dipublikasikan dalam Pharmacognosy Reviews pada tahun 2015 menyoroti kapasitas penangkapan radikal bebas dari ekstrak daun kamboja.

    Konsumsi senyawa antioksidan dari sumber alami seperti daun kamboja dapat membantu menjaga integritas seluler dan mendukung kesehatan secara keseluruhan.

  3. Efek Antimikroba dan Antibakteri

    Ekstrak daun kamboja telah menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap berbagai jenis bakteri patogen dan jamur.

    Senyawa alkaloid dan terpenoid yang ada di dalamnya diduga bertanggung jawab atas sifat ini, mengganggu integritas dinding sel mikroba atau menghambat proses metabolisme esensial mereka.

    Sebuah penelitian dalam Journal of Medicinal Plants Research tahun 2012 melaporkan efektivitas ekstrak daun kamboja melawan bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Potensi ini menjadikan daun kamboja relevan dalam pengembangan agen antimikroba alami.

  4. Pereda Nyeri (Analgesik)

    Secara tradisional, daun kamboja telah digunakan sebagai pereda nyeri, terutama untuk nyeri otot dan sendi. Efek analgesik ini kemungkinan terkait erat dengan sifat anti-inflamasinya, karena banyak nyeri disebabkan oleh proses peradangan.

    Meskipun mekanisme pastinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut, pengalaman empiris menunjukkan bahwa aplikasi topikal atau konsumsi internal (dalam bentuk ramuan) dapat memberikan efek yang menenangkan.

    Studi pendahuluan menunjukkan bahwa beberapa komponen dalam daun kamboja dapat memengaruhi jalur nyeri perifer.

  5. Mempercepat Penyembuhan Luka

    Daun kamboja sering diaplikasikan secara topikal dalam pengobatan tradisional untuk mempercepat penyembuhan luka dan bisul. Senyawa bioaktif di dalamnya dapat merangsang regenerasi sel kulit, mengurangi peradangan di sekitar area luka, dan memberikan perlindungan antimikroba.

    Kandungan taninnya juga dapat berperan sebagai astringen, membantu mengeringkan luka dan membentuk lapisan pelindung. Kemampuan ini menunjukkan potensi daun kamboja sebagai agen penyembuh luka alami yang efektif.

  6. Penurun Demam (Antipiretik)

    Salah satu penggunaan tradisional daun kamboja adalah sebagai penurun demam atau antipiretik. Di beberapa komunitas, rebusan daun kamboja diberikan kepada individu yang mengalami demam untuk membantu menurunkan suhu tubuh.

    Efek ini mungkin terkait dengan kemampuannya untuk memodulasi respons imun atau mengurangi produksi pirogen endogen yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh.

    Meskipun demikian, penelitian klinis lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi dan memahami mekanisme antipiretik ini secara komprehensif.

  7. Potensi Antikanker

    Beberapa studi in vitro dan in vivo awal telah menunjukkan potensi antikanker dari ekstrak daun kamboja.

    Senyawa seperti plumerisin telah diteliti karena kemampuannya menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel kanker tertentu dan menghambat proliferasi sel tumor.

    Meskipun hasil ini menjanjikan, penelitian lebih lanjut pada skala klinis diperlukan untuk memvalidasi efektivitas dan keamanannya sebagai agen antikanker. Potensi ini membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut dalam pengembangan terapi kanker berbasis tumbuhan.

  8. Membantu Mengelola Diabetes

    Ada indikasi bahwa ekstrak daun kamboja mungkin memiliki efek hipoglikemik, yang berarti dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa senyawa tertentu dalam daun kamboja dapat memengaruhi metabolisme glukosa atau meningkatkan sensitivitas insulin.

    Potensi ini sangat relevan dalam konteks manajemen diabetes mellitus, meskipun diperlukan studi yang lebih mendalam dan uji klinis pada manusia untuk mengkonfirmasi manfaat ini. Penggunaan ini harus selalu di bawah pengawasan profesional medis.

  9. Melindungi Lambung (Gastroprotektif)

    Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa ekstrak daun kamboja mungkin memiliki sifat gastroprotektif, membantu melindungi lapisan lambung dari kerusakan dan ulkus.

    Efek ini bisa jadi disebabkan oleh kemampuan anti-inflamasi dan antioksidannya, yang dapat mengurangi iritasi dan kerusakan oksidatif pada mukosa lambung.

    Ini menunjukkan potensi daun kamboja sebagai agen alami untuk mendukung kesehatan pencernaan, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme dan efektivitasnya secara komprehensif pada manusia.

  10. Manfaat Dermatologis

    Selain penyembuhan luka, daun kamboja juga secara tradisional digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi kulit lainnya seperti gatal-gatal, ruam, dan bahkan kutil. Sifat anti-inflamasi, antimikroba, dan antioksidannya berkontribusi pada efek penyembuhan dan perlindungan kulit.

    Senyawa aktifnya dapat membantu menenangkan iritasi kulit dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi kulit. Penggunaan topikal ekstrak daun kamboja menunjukkan potensi sebagai terapi komplementer untuk masalah dermatologis.

  11. Potensi Imunomodulator

    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kamboja mungkin memiliki efek imunomodulator, yang berarti dapat memengaruhi atau mengatur respons sistem kekebalan tubuh.

    Senyawa bioaktif di dalamnya dapat membantu menyeimbangkan respons imun, baik meningkatkan aktivitas kekebalan saat dibutuhkan maupun menekan respons berlebihan yang dapat menyebabkan kondisi autoimun.

    Meskipun mekanisme pastinya masih perlu dijelajahi, potensi ini membuka pintu bagi penelitian lebih lanjut tentang peran daun kamboja dalam mendukung kesehatan imun.

Dalam konteks pengobatan tradisional di Asia Tenggara, daun kamboja telah lama menjadi bagian integral dari farmakope herbal lokal.

Misalnya, di Indonesia dan Malaysia, rebusan daun kamboja sering digunakan untuk meredakan demam dan nyeri sendi, menunjukkan pemahaman empiris yang mendalam tentang khasiatnya. Praktik ini diturunkan secara turun-temurun, memperkuat keyakinan akan potensi terapeutik tumbuhan ini.

Observasi lapangan oleh etnobotanis sering kali mencatat penggunaan spesifik untuk kondisi tertentu, yang kemudian menjadi titik awal untuk penelitian ilmiah lebih lanjut.

Salah satu kasus menarik adalah penggunaan daun kamboja untuk mengobati luka dan bisul yang sulit sembuh.

Di beberapa daerah pedesaan, daun segar ditumbuk dan diaplikasikan langsung sebagai tapal pada luka, dengan keyakinan bahwa ini akan mempercepat proses penyembuhan dan mencegah infeksi.

Menurut Dr. Siti Nurhayati, seorang ahli botani medis dari Universitas Gadjah Mada, aplikasi topikal ini mungkin efektif karena kombinasi sifat antimikroba dan anti-inflamasi yang dimiliki daun kamboja, demikian pandangannya.

Kasus-kasus seperti ini mendorong para ilmuwan untuk mengisolasi senyawa aktif dan menguji efektivitasnya secara sistematis.

Namun, tantangan dalam standardisasi dosis dan formulasi merupakan hambatan signifikan dalam integrasi daun kamboja ke dalam praktik medis modern.

Penggunaan tradisional seringkali bervariasi dalam metode persiapan dan jumlah bahan, yang dapat menghasilkan konsentrasi senyawa aktif yang tidak konsisten. Perbedaan spesies Plumeria juga dapat memengaruhi profil fitokimia dan potensi terapeutiknya.

Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang ketat untuk mengidentifikasi spesies yang paling efektif dan menetapkan dosis yang aman serta terapeutik.

Penelitian etnobotani yang dilakukan di berbagai komunitas adat telah mengumpulkan data berharga tentang cara penggunaan daun kamboja untuk berbagai penyakit.

Survei ini tidak hanya mencatat kegunaan medis, tetapi juga aspek budaya dan spiritual yang melekat pada tumbuhan ini.

Informasi yang dikumpulkan dari para praktisi pengobatan tradisional menjadi fondasi penting bagi studi farmakologi, membimbing para peneliti dalam mencari senyawa bioaktif yang relevan.

Kolaborasi antara ilmuwan modern dan pemegang pengetahuan tradisional adalah kunci untuk membuka potensi penuh dari sumber daya alam ini.

Meskipun banyak potensi, perbandingan dengan obat sintetis yang telah terbukti secara klinis seringkali menjadi pertanyaan. Obat-obatan sintetis memiliki keuntungan dalam hal dosis yang terstandarisasi, efek samping yang teridentifikasi, dan jalur administrasi yang jelas.

Namun, daun kamboja menawarkan alternatif alami dengan potensi efek samping yang lebih rendah dan sinergi antar senyawa yang mungkin tidak ditemukan dalam obat tunggal.

Integrasi kedua pendekatan ini, di mana herbal digunakan sebagai terapi komplementer atau pelengkap, dapat memberikan hasil yang optimal bagi pasien.

Isu toksisitas juga merupakan pertimbangan penting dalam penggunaan daun kamboja. Meskipun umumnya dianggap aman dalam dosis tradisional, beberapa penelitian menunjukkan adanya potensi toksisitas pada dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang.

Misalnya, beberapa laporan anekdotal menyebutkan iritasi kulit pada individu sensitif saat aplikasi topikal getah kamboja.

Oleh karena itu, kehati-hatian dan pengawasan medis diperlukan, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu atau yang sedang mengonsumsi obat lain, kata Dr. Budi Santoso, seorang toksikolog farmasi.

Pemahaman yang jelas tentang profil keamanan sangat penting sebelum rekomendasi penggunaan yang luas.

Pentingnya dosis yang tepat tidak dapat dilebih-lebihkan. Dalam pengobatan herbal, dosis yang terlalu rendah mungkin tidak efektif, sedangkan dosis yang terlalu tinggi dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

Penentuan dosis yang optimal memerlukan penelitian farmakokinetik dan farmakodinamik yang komprehensif, melibatkan uji coba pada model hewan dan, pada akhirnya, uji klinis pada manusia. Hal ini memastikan bahwa manfaat terapeutik dapat dicapai tanpa membahayakan pasien.

Pengetahuan ini menjadi fondasi bagi pengembangan produk herbal yang aman dan efektif.

Pada akhirnya, integrasi pengetahuan tradisional dengan penelitian ilmiah modern adalah jalan ke depan untuk memanfaatkan sepenuhnya manfaat daun kamboja.

Dengan validasi ilmiah yang kuat, daun kamboja dapat bertransformasi dari ramuan lokal menjadi agen terapeutik yang diakui secara global.

Ini memerlukan investasi dalam penelitian, pengembangan, dan regulasi yang ketat untuk memastikan kualitas dan keamanan produk herbal yang berasal dari tumbuhan ini. Kolaborasi lintas disiplin ilmu adalah kunci untuk mencapai tujuan ini.

Tips dan Detail Penggunaan Daun Kamboja

Memanfaatkan potensi daun kamboja memerlukan pemahaman yang benar tentang cara penggunaan dan pertimbangan keamanannya. Berikut adalah beberapa tips dan detail penting yang perlu diperhatikan untuk memastikan penggunaan yang efektif dan aman.

  • Identifikasi Spesies yang Tepat

    Penting untuk memastikan bahwa daun yang digunakan berasal dari spesies Plumeria yang benar, karena ada beberapa varietas dengan profil fitokimia yang mungkin sedikit berbeda.

    Konsultasi dengan ahli botani atau praktisi herbal yang berpengalaman dapat membantu dalam identifikasi yang akurat. Kesalahan dalam identifikasi dapat mengurangi efektivitas atau bahkan menimbulkan risiko yang tidak diinginkan.

    Pengetahuan tentang karakteristik morfologi daun dan bunga Plumeria sangat krusial untuk tujuan ini.

  • Metode Persiapan yang Umum

    Daun kamboja umumnya digunakan dalam bentuk rebusan (decoction) untuk konsumsi internal atau tapal (poultice) untuk aplikasi topikal. Untuk rebusan, beberapa lembar daun segar dicuci bersih, direbus dalam air hingga mendidih, dan disaring sebelum diminum.

    Untuk tapal, daun segar ditumbuk hingga lumat dan diaplikasikan langsung pada area kulit yang bermasalah. Pemahaman tentang metode persiapan yang benar akan memaksimalkan ekstraksi senyawa aktif.

  • Perhatikan Dosis dan Frekuensi

    Karena kurangnya standardisasi ilmiah yang ketat untuk penggunaan tradisional, dosis dan frekuensi penggunaan harus dilakukan dengan hati-hati. Disarankan untuk memulai dengan dosis rendah dan memantau respons tubuh.

    Konsumsi berlebihan atau penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan dapat berpotensi menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Untuk aplikasi topikal, perhatikan reaksi kulit terhadap paparan awal.

  • Potensi Efek Samping dan Alergi

    Meskipun umumnya dianggap aman, beberapa individu mungkin mengalami reaksi alergi atau iritasi, terutama dari getah putih yang keluar dari daun dan batang. Gejala alergi dapat berupa ruam, gatal, atau bengkak.

    Pengujian sensitivitas pada area kecil kulit sebelum aplikasi luas sangat disarankan. Individu dengan riwayat alergi terhadap tumbuhan lain harus lebih berhati-hati.

  • Konsultasi dengan Profesional Medis

    Sebelum menggunakan daun kamboja untuk tujuan pengobatan, terutama jika memiliki kondisi medis yang sudah ada atau sedang mengonsumsi obat lain, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan.

    Interaksi dengan obat-obatan tertentu dapat terjadi, dan profesional medis dapat memberikan panduan yang aman dan tepat. Penggunaan herbal harus selalu menjadi bagian dari pendekatan kesehatan yang komprehensif dan terinformasi.

Penelitian ilmiah mengenai manfaat daun kamboja telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, meskipun sebagian besar masih berada pada tahap pra-klinis.

Banyak studi awal menggunakan desain in vitro, melibatkan pengujian ekstrak daun pada sel atau mikroorganisme dalam lingkungan laboratorium. Misalnya, penelitian yang diterbitkan dalam African Journal of Biotechnology pada tahun 2011 oleh Khan et al.

menguji efek antibakteri ekstrak daun Plumeria rubra terhadap beberapa patogen umum, menunjukkan zona hambat yang signifikan.

Metode yang digunakan seringkali melibatkan maserasi atau soxhletasi untuk mendapatkan ekstrak, diikuti dengan uji aktivitas biologis seperti DPPH assay untuk antioksidan atau agar diffusion method untuk antimikroba.

Selanjutnya, beberapa penelitian telah beralih ke model in vivo, menggunakan hewan percobaan seperti tikus atau kelinci untuk mengevaluasi efek anti-inflamasi, analgesik, atau antidiabetik. Sebuah studi oleh Ratnasooriya et al.

pada tahun 2007, yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology, meneliti aktivitas anti-inflamasi ekstrak metanol daun Plumeria rubra pada tikus dengan edema kaki yang diinduksi karagenan, menunjukkan pengurangan pembengkakan yang signifikan.

Desain studi ini memberikan bukti yang lebih kuat mengenai potensi terapeutik di dalam organisme hidup.

Namun, ukuran sampel yang relatif kecil dan perbedaan fisiologis antara hewan dan manusia berarti hasil ini belum dapat langsung diekstrapolasi ke manusia.

Meskipun banyak bukti menunjukkan potensi positif, ada juga pandangan yang berlawanan atau setidaknya skeptisisme yang beralasan.

Beberapa kritikus berpendapat bahwa sebagian besar studi tentang daun kamboja masih bersifat pendahuluan dan kurangnya uji klinis pada manusia yang berskala besar merupakan batasan utama.

Misalnya, efek samping yang tidak teridentifikasi pada manusia atau interaksi obat-herbal belum sepenuhnya dipahami. Pandangan ini menekankan pentingnya validasi ilmiah yang lebih ketat sebelum daun kamboja dapat direkomendasikan secara luas sebagai terapi medis.

Kesenjangan ini menunjukkan perlunya investasi lebih lanjut dalam penelitian klinis.

Selain itu, variabilitas dalam komposisi kimia daun kamboja akibat faktor geografis, kondisi pertumbuhan, dan metode ekstraksi juga menjadi perhatian.

Sebuah studi fitokimia komparatif yang diterbitkan dalam Industrial Crops and Products pada tahun 2014 oleh Yadav et al. menunjukkan bahwa konsentrasi senyawa aktif dapat bervariasi secara signifikan antar sampel.

Variabilitas ini dapat memengaruhi konsistensi dan reprodusibilitas hasil penelitian, serta efektivitas produk herbal yang dibuat dari daun kamboja. Oleh karena itu, standardisasi ekstrak adalah langkah krusial untuk memastikan kualitas dan keamanan.

Metodologi penelitian juga menghadapi tantangan dalam isolasi dan karakterisasi senyawa bioaktif. Meskipun beberapa senyawa seperti plumerisin telah diidentifikasi, masih banyak metabolit sekunder lain yang belum sepenuhnya dipahami kontribusinya terhadap efek terapeutik.

Identifikasi senyawa tunggal yang bertanggung jawab atas aktivitas biologis tertentu adalah langkah penting dalam pengembangan obat.

Kurangnya penelitian yang fokus pada mekanisme molekuler spesifik juga menjadi keterbatasan, sehingga sulit untuk memahami bagaimana senyawa tersebut berinteraksi dengan target biologis di dalam tubuh.

Pandangan oposisi juga menyoroti potensi toksisitas, terutama jika digunakan dalam dosis tinggi atau jangka panjang. Meskipun penelitian tentang toksisitas akut dan subkronis pada hewan telah dilakukan, data toksisitas jangka panjang pada manusia masih sangat terbatas.

Beberapa laporan anekdotal tentang efek samping ringan seperti iritasi pencernaan atau kulit telah memicu kehati-hatian.

Oleh karena itu, penelitian toksikologi yang lebih komprehensif, termasuk studi genotoksisitas dan teratogenisitas, sangat diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan daun kamboja secara medis. Risiko dan manfaat harus selalu dipertimbangkan secara seimbang.

Rekomendasi

Berdasarkan analisis potensi dan bukti ilmiah yang ada, beberapa rekomendasi dapat diajukan untuk memaksimalkan manfaat daun kamboja secara aman dan efektif. Pertama, diperlukan investasi yang lebih besar dalam penelitian klinis pada manusia.

Studi yang dirancang dengan baik, melibatkan kelompok kontrol dan plasebo, serta ukuran sampel yang memadai, akan memberikan bukti kuat mengenai efektivitas dan keamanan daun kamboja untuk berbagai kondisi medis.

Hal ini akan membantu mengkonfirmasi temuan dari studi pra-klinis dan etnobotani.

Kedua, standardisasi ekstrak daun kamboja harus menjadi prioritas utama. Ini mencakup penentuan spesies yang paling efektif, pengembangan metode ekstraksi yang konsisten, dan identifikasi serta kuantifikasi senyawa aktif utama.

Standardisasi akan memastikan bahwa produk yang berasal dari daun kamboja memiliki kualitas yang seragam dan dosis yang terukur, mengurangi variabilitas dalam efek terapeutik.

Upaya ini akan mendukung pengembangan produk herbal yang lebih dapat diandalkan dan aman untuk konsumen.

Ketiga, regulasi yang lebih ketat terhadap produk herbal yang mengandung daun kamboja perlu diterapkan oleh otoritas kesehatan.

Regulasi ini harus mencakup persyaratan pengujian kualitas, labelisasi yang jelas mengenai kandungan dan dosis, serta peringatan mengenai potensi efek samping atau interaksi obat. Sistem pengawasan pasca-pemasaran juga penting untuk memantau keamanan produk dalam penggunaan nyata.

Langkah-langkah ini akan melindungi konsumen dari produk yang tidak memenuhi standar kualitas atau keamanan.

Keempat, edukasi publik mengenai penggunaan daun kamboja yang tepat dan aman sangat penting. Informasi yang akurat mengenai manfaat, dosis yang direkomendasikan, potensi efek samping, dan pentingnya konsultasi dengan profesional medis harus disebarluaskan.

Kampanye kesadaran ini dapat membantu masyarakat membuat keputusan yang terinformasi dan menghindari praktik penggunaan yang berisiko. Pengetahuan yang benar akan memberdayakan individu untuk memanfaatkan herbal secara bijak.

Terakhir, praktik budidaya kamboja yang berkelanjutan harus didorong untuk memastikan ketersediaan sumber daya ini di masa depan. Metode panen yang bertanggung jawab dan upaya konservasi spesies kamboja yang terancam perlu dipertimbangkan.

Pendekatan ini tidak hanya mendukung pasokan bahan baku yang stabil untuk penelitian dan aplikasi medis, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati. Keseimbangan antara pemanfaatan dan konservasi adalah kunci untuk keberlanjutan sumber daya botani.

Daun kamboja (Plumeria spp.) menyimpan potensi terapeutik yang signifikan, didukung oleh penggunaan tradisional yang kaya dan semakin banyak bukti ilmiah pra-klinis.

Berbagai senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya berkontribusi pada sifat anti-inflamasi, antioksidan, antimikroba, dan bahkan potensi antikanker serta antidiabetik.

Ini menunjukkan bahwa daun kamboja dapat menjadi sumber berharga untuk pengembangan obat-obatan baru dan terapi komplementer, menawarkan pendekatan alami untuk berbagai masalah kesehatan. Pengakuan ilmiah terhadap khasiat tradisional adalah langkah maju yang menjanjikan.

Namun, untuk sepenuhnya mewujudkan potensi ini, penelitian di masa depan harus fokus pada uji klinis yang ketat pada manusia.

Validasi ilmiah yang kuat sangat penting untuk mengkonfirmasi efektivitas, menentukan dosis yang aman, dan mengidentifikasi potensi efek samping atau interaksi obat.

Selain itu, upaya standardisasi ekstrak dan regulasi produk herbal berbasis kamboja akan memastikan kualitas dan keamanan bagi konsumen. Pendekatan komprehensif ini akan menjembatani kesenjangan antara pengetahuan tradisional dan praktik medis modern.