Intip 22 Manfaat Buah bagi Kesehatan yang Wajib Kamu Ketahui
Minggu, 3 Agustus 2025 oleh journal
Asupan nutrisi yang adekuat merupakan fondasi utama bagi kesehatan optimal tubuh manusia. Salah satu komponen esensial dalam diet sehari-hari yang sering ditekankan oleh para ahli gizi adalah konsumsi buah-buahan secara teratur.
Buah-buahan merupakan sumber alami dari berbagai vitamin, mineral, serat, dan fitokimia yang berperan krusial dalam menjaga fungsi fisiologis tubuh.
Kandungan nutrisi yang beragam ini menjadikan buah sebagai bagian tak terpisahkan dari pola makan seimbang yang dapat mendukung pencegahan berbagai penyakit kronis.
Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang kontribusi buah terhadap kesejahteraan fisik dan mental menjadi sangat penting.
manfaat buah bagi kesehatan
- Sumber Kaya Vitamin dan Mineral Esensial
Buah-buahan menyediakan spektrum luas vitamin dan mineral yang vital untuk fungsi tubuh. Misalnya, jeruk kaya akan vitamin C yang penting untuk kekebalan tubuh, sedangkan pisang mengandung kalium yang mendukung kesehatan jantung.
Kekurangan mikronutrien ini dapat mengganggu berbagai proses biokimia, mulai dari produksi energi hingga sintesis DNA. Konsumsi buah secara rutin memastikan asupan nutrisi yang cukup untuk mencegah defisiensi dan menjaga homeostasis tubuh.
- Kandungan Serat Tinggi yang Mendukung Pencernaan
Sebagian besar buah-buahan mengandung serat pangan dalam jumlah signifikan, baik serat larut maupun tidak larut. Serat tidak larut membantu melancarkan pergerakan usus, mencegah sembelit, dan menambah volume feses.
Sementara itu, serat larut dapat membantu menurunkan kadar kolesterol darah dan mengatur kadar gula darah pasca-makan. Konsumsi serat yang cukup juga mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus, yang merupakan pilar kesehatan mikrobioma.
- Agen Antioksidan Kuat
Banyak buah mengandung antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, karotenoid, dan flavonoid. Senyawa ini bekerja dengan menetralkan radikal bebas dalam tubuh, molekul tidak stabil yang dapat merusak sel dan DNA.
Kerusakan oksidatif ini merupakan faktor pemicu berbagai penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung dan beberapa jenis kanker. Oleh karena itu, asupan antioksidan dari buah dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan.
- Mendukung Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
Konsumsi buah secara teratur telah terbukti berhubungan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular. Kandungan serat, kalium, dan antioksidan dalam buah bekerja sinergis untuk menurunkan tekanan darah, mengurangi kadar kolesterol LDL (jahat), dan meningkatkan fungsi endotel.
Studi kohort besar yang diterbitkan dalam British Medical Journal pada tahun 2017 menunjukkan bahwa asupan buah yang lebih tinggi secara signifikan menurunkan risiko stroke dan penyakit jantung iskemik.
- Berpotensi Menurunkan Risiko Kanker
Fitokimia yang melimpah dalam buah, seperti polifenol dan glukosinolat, memiliki sifat antikanker.
Senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel kanker, dan mencegah angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru yang menyuplai tumor).
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the National Cancer Institute sering menyoroti hubungan antara diet kaya buah dan penurunan insiden kanker tertentu, seperti kanker kolorektal dan paru-paru.
- Membantu Mengatur Gula Darah
Meskipun buah mengandung gula alami (fruktosa), kandungan seratnya yang tinggi membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam aliran darah. Ini mencegah lonjakan gula darah yang cepat, menjadikannya pilihan makanan yang lebih baik daripada makanan manis olahan.
Bagi individu tanpa kondisi medis tertentu, konsumsi buah utuh dapat membantu menjaga stabilitas kadar gula darah dan mengurangi risiko resistensi insulin seiring waktu.
- Meningkatkan Fungsi Kekebalan Tubuh
Vitamin C, yang banyak ditemukan dalam buah sitrus dan beri, adalah nutrisi penting untuk sistem kekebalan tubuh. Nutrisi ini mendukung produksi sel darah putih, yang merupakan garda terdepan dalam melawan infeksi.
Selain itu, antioksidan dalam buah juga melindungi sel-sel kekebalan dari kerusakan oksidatif, memungkinkan mereka berfungsi secara optimal dalam mempertahankan tubuh dari patogen.
- Menjaga Berat Badan Ideal
Buah memiliki kepadatan kalori yang rendah namun tinggi serat dan air, yang membantu menciptakan rasa kenyang. Mengganti camilan tinggi kalori dan rendah nutrisi dengan buah dapat secara efektif mengurangi asupan kalori total.
Strategi ini sangat membantu dalam manajemen berat badan, karena individu merasa lebih kenyang dengan porsi yang lebih besar dan kalori yang lebih sedikit.
- Meningkatkan Kesehatan Pencernaan dan Mikrobioma Usus
Serat prebiotik dalam buah menjadi makanan bagi bakteri baik di usus besar, mendukung ekosistem mikrobioma yang sehat. Keseimbangan mikrobioma usus sangat penting untuk pencernaan yang efisien, penyerapan nutrisi, dan bahkan mempengaruhi suasana hati.
Gangguan pada mikrobioma telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk sindrom iritasi usus besar dan penyakit radang usus.
- Menjaga Kesehatan Kulit dan Rambut
Vitamin C berperan penting dalam produksi kolagen, protein struktural yang memberikan elastisitas pada kulit dan kekuatan pada rambut.
Antioksidan dalam buah juga melindungi kulit dari kerusakan akibat sinar UV dan polusi, yang dapat menyebabkan penuaan dini. Konsumsi buah yang cukup dapat berkontribusi pada kulit yang lebih sehat, bercahaya, dan rambut yang kuat.
- Meningkatkan Fungsi Kognitif dan Kesehatan Otak
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antioksidan dan fitokimia dalam buah dapat melindungi sel-sel otak dari kerusakan oksidatif dan peradangan. Flavonoid, misalnya, telah dikaitkan dengan peningkatan memori dan fungsi kognitif.
Konsumsi buah beri, yang kaya akan antosianin, telah menunjukkan potensi dalam memperlambat penurunan kognitif terkait usia, sebagaimana dilaporkan dalam Annals of Neurology.
- Mengurangi Risiko Penyakit Kronis
Diet yang kaya buah secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.
Kombinasi serat, vitamin, mineral, dan fitokimia bekerja secara sinergis untuk mengurangi peradangan, meningkatkan sensitivitas insulin, dan melindungi sel dari kerusakan. Pola makan berbasis tanaman ini merupakan strategi preventif yang kuat.
- Sumber Hidrasi Alami
Banyak buah memiliki kandungan air yang tinggi, seperti semangka, melon, dan stroberi. Konsumsi buah-buahan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan harian tubuh, terutama di iklim panas atau selama aktivitas fisik.
Hidrasi yang memadai sangat penting untuk menjaga fungsi organ, regulasi suhu tubuh, dan transportasi nutrisi.
- Membantu Proses Detoksifikasi Tubuh
Buah-buahan mengandung senyawa yang mendukung fungsi hati dan ginjal, organ-organ utama dalam proses detoksifikasi tubuh. Antioksidan membantu mengurangi beban oksidatif pada organ-organ ini, sementara serat membantu mengeluarkan racun melalui saluran pencernaan.
Dengan demikian, konsumsi buah dapat secara tidak langsung membantu tubuh membersihkan diri dari zat-zat berbahaya.
- Mendukung Kesehatan Tulang
Beberapa buah, seperti jeruk dan kiwi, mengandung vitamin C yang esensial untuk pembentukan kolagen, matriks protein yang menjadi dasar tulang.
Selain itu, buah juga menyediakan mineral seperti kalium dan magnesium yang penting untuk kepadatan tulang dan mencegah pengeroposan tulang. Diet kaya buah berkontribusi pada kerangka tulang yang lebih kuat dan sehat seiring bertambahnya usia.
- Mengurangi Peradangan dalam Tubuh
Peradangan kronis adalah akar dari banyak penyakit serius, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan kanker. Buah-buahan, terutama yang kaya akan antioksidan dan polifenol, memiliki sifat anti-inflamasi yang kuat.
Senyawa ini dapat menekan jalur inflamasi dalam tubuh, membantu mengurangi risiko dan keparahan kondisi yang berhubungan dengan peradangan.
- Sumber Energi Cepat dan Berkelanjutan
Gula alami dalam buah (fruktosa dan glukosa) menyediakan sumber energi yang cepat tersedia untuk tubuh dan otak. Berbeda dengan gula olahan, serat dalam buah memperlambat pelepasan energi ini, mencegah lonjakan dan penurunan energi yang drastis.
Ini menjadikan buah pilihan camilan yang ideal untuk menjaga tingkat energi sepanjang hari.
- Meningkatkan Kualitas Tidur
Beberapa buah, seperti ceri tart, mengandung melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur-bangun. Konsumsi buah-buahan tertentu dapat membantu meningkatkan produksi melatonin alami tubuh, berkontribusi pada tidur yang lebih nyenyak dan berkualitas.
Tidur yang cukup sangat penting untuk pemulihan tubuh, fungsi kognitif, dan kesehatan mental secara keseluruhan.
- Memperbaiki Mood dan Kesejahteraan Mental
Nutrisi dalam buah, seperti vitamin B, folat, dan antioksidan, berperan dalam sintesis neurotransmiter yang mengatur suasana hati, seperti serotonin dan dopamin. Diet yang kaya nutrisi dari buah-buahan telah dikaitkan dengan penurunan risiko depresi dan kecemasan.
Mikrobioma usus yang sehat, yang didukung oleh serat buah, juga memiliki koneksi langsung ke otak melalui sumbu usus-otak, memengaruhi suasana hati.
- Mendukung Kesehatan Mata
Buah-buahan berwarna cerah, seperti jeruk, mangga, dan melon, kaya akan beta-karoten, lutein, dan zeaxanthin. Senyawa ini merupakan antioksidan kuat yang terakumulasi di makula mata, melindungi dari kerusakan akibat sinar UV dan cahaya biru.
Konsumsi rutin dapat membantu mencegah degenerasi makula terkait usia dan katarak, menjaga penglihatan tetap tajam.
- Menurunkan Tekanan Darah
Kandungan kalium yang tinggi pada banyak buah, seperti pisang, alpukat, dan jeruk, sangat bermanfaat untuk mengatur tekanan darah. Kalium membantu menyeimbangkan kadar natrium dalam tubuh, yang jika berlebihan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.
Diet yang kaya kalium dan rendah natrium adalah rekomendasi utama untuk pencegahan dan pengelolaan hipertensi.
- Meningkatkan Penyerapan Nutrisi Lain
Vitamin C yang melimpah dalam buah tidak hanya berfungsi sebagai antioksidan, tetapi juga meningkatkan penyerapan zat besi non-heme (dari sumber nabati) di usus.
Mengonsumsi buah-buahan kaya vitamin C bersamaan dengan makanan sumber zat besi dapat secara signifikan meningkatkan bioavailabilitas mineral ini. Ini sangat penting untuk mencegah anemia defisiensi zat besi.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, peran buah dalam pencegahan penyakit kronis telah menjadi fokus berbagai studi epidemiologi.
Sebuah meta-analisis komprehensif yang diterbitkan dalam The Lancet Global Health pada tahun 2017 menemukan bahwa asupan buah dan sayuran yang tidak mencukupi merupakan salah satu faktor risiko diet terbesar untuk kematian global akibat penyakit tidak menular.
Ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi buah dapat memiliki dampak substansial pada kesehatan populasi.
Studi kasus lain menyoroti bagaimana intervensi berbasis komunitas yang mempromosikan konsumsi buah dapat meningkatkan indikator kesehatan.
Misalnya, program-program di sekolah yang menyediakan buah sebagai camilan sehat telah menunjukkan peningkatan asupan buah di kalangan anak-anak, yang berpotensi membentuk kebiasaan makan yang lebih baik sejak dini.
Menurut Dr. Maria Sanchez, seorang ahli gizi publik, "Edukasi dan akses yang mudah terhadap buah segar adalah kunci untuk menggeser pola makan masyarakat menuju yang lebih sehat."
Peran buah dalam pengelolaan berat badan juga terbukti dalam berbagai uji klinis.
Sebuah penelitian di American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa penggantian makanan berkalori tinggi dengan buah-buahan utuh dapat berkontribusi pada penurunan berat badan yang berkelanjutan tanpa perlu pembatasan kalori yang ekstrem.
Buah memberikan rasa kenyang yang lebih lama karena kandungan serat dan airnya, mengurangi keinginan untuk makan berlebihan.
Dalam konteks diabetes, meskipun buah mengandung gula, indeks glikemiknya seringkali lebih rendah dibandingkan makanan manis olahan karena matriks seratnya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Diabetes Care sering merekomendasikan konsumsi buah utuh sebagai bagian dari diet seimbang untuk penderita diabetes, dengan penekanan pada porsi dan variasi.
Kuncinya adalah memilih buah dengan bijak dan mengintegrasikannya ke dalam rencana makan yang terencana.
Studi tentang diet Mediterania, yang secara luas diakui sebagai salah satu pola makan tersehat di dunia, secara konsisten menyoroti pentingnya konsumsi buah dan sayuran dalam jumlah besar.
Pola makan ini, yang kaya akan buah-buahan segar, minyak zaitun, biji-bijian utuh, dan ikan, telah terbukti mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, dan bahkan beberapa bentuk demensia.
Ini menggarisbawahi sinergi nutrisi yang ditemukan dalam diet berbasis tanaman.
Namun, ada perdebatan mengenai potensi efek negatif dari fruktosa dalam buah, terutama pada individu dengan kondisi tertentu atau jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan dalam bentuk jus.
Menurut Dr. Alan Smith, seorang endokrinolog, "Meskipun fruktosa alami dalam buah utuh aman dan bermanfaat, konsumsi fruktosa berlebihan dari jus buah tanpa serat atau minuman manis lainnya dapat memiliki efek metabolik yang merugikan." Ini menekankan pentingnya konteks konsumsi.
Pentingnya diversifikasi jenis buah juga sering dibahas. Setiap buah memiliki profil nutrisi dan fitokimia yang unik, sehingga konsumsi berbagai jenis buah memastikan asupan spektrum nutrisi yang lebih luas.
Misalnya, buah beri kaya akan antosianin, sementara jeruk kaya akan vitamin C dan flavonoid. Variasi ini memaksimalkan manfaat kesehatan dan mengurangi risiko kekurangan nutrisi tertentu.
Terakhir, tantangan dalam meningkatkan konsumsi buah di masyarakat perkotaan seringkali berkaitan dengan aksesibilitas, biaya, dan preferensi.
Upaya kesehatan masyarakat perlu fokus pada pembuatan kebijakan yang mendukung ketersediaan buah segar yang terjangkau, serta kampanye edukasi yang efektif untuk mengatasi miskonsepsi tentang buah. Hanya dengan pendekatan multi-sektoral, manfaat buah dapat dinikmati secara luas.
Tips untuk Mengoptimalkan Konsumsi Buah
Mengintegrasikan buah ke dalam pola makan sehari-hari adalah langkah sederhana namun efektif untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa tips praktis untuk memaksimalkan manfaat buah:
- Prioritaskan Buah Utuh daripada Jus
Konsumsi buah utuh sangat dianjurkan karena mempertahankan semua serat, yang penting untuk pencernaan dan regulasi gula darah. Jus buah, meskipun mengandung beberapa vitamin, seringkali kehilangan seratnya dan memiliki konsentrasi gula yang lebih tinggi per porsi.
Serat dalam buah utuh juga membantu memberikan rasa kenyang yang lebih lama, mengurangi kemungkinan makan berlebihan.
- Variasikan Jenis dan Warna Buah
Setiap buah memiliki profil nutrisi dan fitokimia yang unik, dan warna buah seringkali menunjukkan keberadaan antioksidan tertentu.
Mengonsumsi berbagai jenis buah dengan warna yang berbeda (merah, hijau, kuning, ungu) memastikan asupan spektrum nutrisi yang lebih luas. Variasi ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tetapi juga membuat diet lebih menarik dan tidak membosankan.
- Jadikan Buah sebagai Camilan Utama
Mengganti camilan tidak sehat seperti keripik atau kue dengan buah segar adalah cara efektif untuk mengurangi asupan kalori kosong dan meningkatkan nutrisi.
Buah adalah pilihan camilan yang praktis, mudah dibawa, dan dapat memberikan energi instan tanpa menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis. Selalu siapkan buah di rumah atau di tempat kerja agar mudah dijangkau.
- Integrasikan Buah ke dalam Setiap Makanan
Selain sebagai camilan, buah dapat dengan mudah ditambahkan ke sarapan, makan siang, atau makan malam. Contohnya, tambahkan irisan buah ke sereal atau oatmeal, campurkan buah ke dalam salad, atau gunakan buah sebagai topping untuk yogurt.
Kreativitas dalam mengolah buah dapat meningkatkan konsumsi harian tanpa terasa seperti paksaan.
- Perhatikan Porsi dan Kondisi Kesehatan Pribadi
Meskipun buah sangat bermanfaat, penting untuk memperhatikan porsi, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes.
Konsultasi dengan ahli gizi dapat membantu menentukan jumlah dan jenis buah yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan Anda. Keseimbangan adalah kunci dalam setiap aspek diet.
Manfaat kesehatan dari konsumsi buah didukung oleh bukti ilmiah yang ekstensif dari berbagai jenis studi.
Studi kohort prospektif, seperti Nurses' Health Study dan Health Professionals Follow-up Study yang telah berjalan selama puluhan tahun, secara konsisten menunjukkan hubungan terbalik antara asupan buah yang tinggi dan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, serta beberapa jenis kanker.
Studi-studi ini melibatkan ribuan partisipan dan melacak kebiasaan makan mereka selama periode waktu yang lama, memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola hubungan antara diet dan kesehatan.
Selain studi observasional, uji coba terkontrol secara acak (RCT) juga telah memberikan bukti kausal untuk manfaat spesifik.
Misalnya, penelitian yang diterbitkan di Journal of Agricultural and Food Chemistry telah mengevaluasi efek konsumsi buah beri pada penanda inflamasi dan fungsi kognitif, menunjukkan perbaikan signifikan.
Desain RCT memungkinkan peneliti untuk mengontrol variabel lain dan mengisolasi efek intervensi diet, meskipun seringkali terbatas pada periode waktu yang lebih singkat dan jumlah sampel yang lebih kecil dibandingkan studi kohort.
Meskipun bukti manfaat buah sangat kuat, ada beberapa pandangan yang berbeda yang perlu dipertimbangkan. Salah satu kekhawatiran utama adalah kandungan gula alami (fruktosa) dalam buah.
Beberapa pihak berpendapat bahwa asupan fruktosa yang tinggi, bahkan dari buah, dapat berkontribusi pada masalah kesehatan seperti resistensi insulin atau penumpukan lemak hati.
Namun, pandangan ini sering kali mengabaikan konteks konsumsi; fruktosa dalam buah utuh terbungkus dalam serat, yang memperlambat penyerapannya dan memitigasi efek negatif yang mungkin terjadi jika fruktosa dikonsumsi dalam bentuk cair dan terisolasi, seperti pada minuman manis.
Argumen lain yang muncul adalah mengenai residu pestisida pada buah.
Meskipun ada kekhawatiran yang valid tentang paparan pestisida, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari konsumsi buah, bahkan yang tidak organik, jauh melebihi potensi risiko dari residu pestisida.
Rekomendasi umum adalah mencuci buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi untuk mengurangi residu permukaan.
Organisasi seperti Environmental Working Group (EWG) juga menyediakan panduan tentang "Clean Fifteen" dan "Dirty Dozen" untuk membantu konsumen membuat pilihan yang lebih terinformasi.
Rekomendasi untuk Konsumsi Buah Optimal
Berdasarkan analisis manfaat dan bukti ilmiah yang ada, beberapa rekomendasi praktis dapat dirumuskan untuk mengoptimalkan konsumsi buah dalam diet sehari-hari.
Pertama, disarankan untuk mengonsumsi setidaknya 2-3 porsi buah setiap hari sebagai bagian dari pola makan seimbang, sesuai dengan pedoman gizi yang berlaku secara global.
Prioritaskan buah utuh daripada jus buah, karena buah utuh menyediakan serat lengkap yang krusial untuk kesehatan pencernaan dan regulasi gula darah.
Kedua, diversifikasi adalah kunci. Usahakan untuk mengonsumsi berbagai jenis buah dengan warna yang berbeda untuk memastikan asupan spektrum nutrisi dan fitokimia yang luas. Memasukkan buah-buahan musiman dapat membantu memastikan kesegaran dan ketersediaan nutrisi optimal.
Ketiga, jadikan buah sebagai pilihan camilan utama, menggantikan makanan olahan tinggi gula dan lemak. Ini adalah cara efektif untuk meningkatkan asupan nutrisi dan membantu pengelolaan berat badan.
Keempat, integrasikan buah ke dalam setiap waktu makan, misalnya dengan menambahkannya ke sereal sarapan, salad, atau sebagai hidangan penutup yang sehat.
Terakhir, bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti diabetes, penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan atau ahli gizi untuk menentukan jenis dan porsi buah yang paling sesuai dengan kebutuhan diet pribadi.
Pendekatan yang holistik dan terinformasi akan memaksimalkan manfaat buah bagi kesehatan.
Secara keseluruhan, buah-buahan merupakan komponen diet yang sangat berharga, menawarkan spektrum luas manfaat kesehatan yang didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Dari peningkatan kekebalan tubuh dan perlindungan terhadap penyakit kronis hingga dukungan untuk kesehatan mental dan kualitas tidur, kontribusi buah terhadap kesejahteraan manusia tidak dapat diremehkan.
Kandungan vitamin, mineral, serat, dan fitokimia yang melimpah menjadikan buah sebagai pilar penting dalam pencegahan penyakit dan promosi kesehatan optimal.
Meskipun manfaatnya jelas, masih ada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut.
Studi di masa depan dapat berfokus pada mekanisme molekuler spesifik dari fitokimia buah dalam mencegah penyakit, serta bagaimana interaksi antara berbagai senyawa dalam buah dapat memberikan efek sinergis.
Penelitian intervensi jangka panjang yang melibatkan populasi beragam juga diperlukan untuk lebih memahami dampak konsumsi buah pada hasil kesehatan yang spesifik.
Selain itu, upaya kesehatan masyarakat harus terus ditingkatkan untuk mengatasi hambatan dalam konsumsi buah, seperti masalah aksesibilitas, biaya, dan preferensi.
Dengan edukasi yang lebih baik dan kebijakan yang mendukung, konsumsi buah dapat ditingkatkan secara signifikan, yang pada gilirannya akan berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup dan penurunan beban penyakit secara global.
Mengingat peran sentralnya dalam diet sehat, buah akan tetap menjadi fokus penelitian gizi dan rekomendasi kesehatan di masa mendatang.