Intip 22 Manfaat Buah yang Jarang Diketahui

Sabtu, 12 Juli 2025 oleh journal

Intip 22 Manfaat Buah yang Jarang Diketahui

Buah merupakan bagian dari tumbuhan yang umumnya mengandung biji dan berkembang dari bunga, berfungsi sebagai pelindung biji dan alat penyebaran.

Konsumsi reguler dari komoditas pangan ini telah lama dikaitkan dengan berbagai dampak positif terhadap kesehatan manusia. Asupan ini menyediakan spektrum nutrisi esensial yang luas, termasuk vitamin, mineral, serat pangan, dan senyawa fitokimia.

Oleh karena itu, integrasinya ke dalam pola makan sehari-hari sangat dianjurkan untuk mendukung fungsi fisiologis tubuh yang optimal dan pencegahan penyakit kronis.

manfaat buah

  1. Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

    Banyak jenis buah kaya akan vitamin C, seperti jeruk, kiwi, dan stroberi, yang merupakan antioksidan kuat. Vitamin C berperan penting dalam produksi sel darah putih, terutama limfosit dan fagosit, yang bertanggung jawab melawan infeksi.

    Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Nutrition pada tahun 2018 menunjukkan bahwa asupan vitamin C yang adekuat dapat mempersingkat durasi pilek dan flu.

    Dengan demikian, konsumsi buah secara teratur dapat membantu tubuh lebih efektif dalam menangkis patogen.

  2. Sumber Antioksidan Kuat

    Buah-buahan mengandung beragam antioksidan seperti flavonoid, polifenol, dan karotenoid. Senyawa ini membantu menetralkan radikal bebas dalam tubuh, yang merupakan molekul tidak stabil penyebab kerusakan sel dan penuaan dini.

    Kerusakan sel akibat radikal bebas juga berkontribusi pada perkembangan penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung. Sebuah studi dalam Food Chemistry (2020) menggarisbawahi potensi antioksidan buah beri dalam mengurangi stres oksidatif.

  3. Mendukung Kesehatan Jantung

    Kandungan serat, potasium, dan antioksidan dalam buah-buahan berperan krusial dalam menjaga kesehatan kardiovaskular. Potasium membantu mengatur tekanan darah dengan menyeimbangkan kadar natrium dalam tubuh.

    Serat, khususnya serat larut, dapat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat).

    Penelitian kohort besar yang diterbitkan di Circulation pada tahun 2019 menemukan hubungan kuat antara konsumsi buah dan sayur tinggi dengan risiko penyakit jantung koroner yang lebih rendah.

  4. Membantu Pengelolaan Berat Badan

    Buah memiliki kandungan kalori yang relatif rendah namun tinggi serat dan air, sehingga memberikan rasa kenyang yang lebih lama. Kandungan seratnya memperlambat pencernaan dan penyerapan gula, mencegah lonjakan gula darah yang dapat memicu rasa lapar.

    Studi di Obesity Reviews (2017) menunjukkan bahwa peningkatan asupan buah dan sayur dikaitkan dengan penurunan berat badan atau pencegahan kenaikan berat badan. Ini menjadikan buah pilihan camilan yang ideal untuk diet.

  5. Mencegah Sembelit dan Melancarkan Pencernaan

    Serat pangan yang melimpah dalam buah-buahan, baik serat larut maupun tidak larut, sangat penting untuk kesehatan pencernaan. Serat tidak larut menambah volume feses dan mempercepat pergerakannya melalui usus, mencegah sembelit.

    Sementara itu, serat larut membentuk gel yang dapat melunakkan feses. Sebuah tinjauan sistematis dalam World Journal of Gastroenterology (2016) mengonfirmasi peran serat buah dalam menjaga keteraturan buang air besar.

  6. Menurunkan Risiko Diabetes Tipe 2

    Meskipun buah mengandung gula alami (fruktosa), serat yang terkandung di dalamnya membantu mengontrol penyerapan gula tersebut, sehingga mencegah lonjakan kadar gula darah. Pola makan tinggi serat dari buah-buahan utuh dikaitkan dengan peningkatan sensitivitas insulin.

    Sebuah studi dalam British Medical Journal (2013) menunjukkan bahwa konsumsi buah utuh tertentu, seperti apel dan beri, secara signifikan menurunkan risiko diabetes tipe 2.

  7. Mendukung Kesehatan Mata

    Buah-buahan tertentu, seperti jeruk, mangga, dan melon, kaya akan vitamin A, vitamin C, dan antioksidan seperti lutein dan zeaxanthin. Senyawa ini esensial untuk menjaga kesehatan retina dan lensa mata.

    Lutein dan zeaxanthin khususnya dapat melindungi mata dari kerusakan akibat sinar UV dan mengurangi risiko degenerasi makula terkait usia (AMD). Penelitian di Archives of Ophthalmology (2015) menyoroti peran nutrisi ini dalam pencegahan AMD.

  8. Memperbaiki Kesehatan Kulit

    Kandungan vitamin C dalam buah-buahan sangat vital untuk sintesis kolagen, protein struktural yang menjaga elastisitas dan kekencangan kulit. Antioksidan lainnya juga melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas dan polusi.

    Hidrasi yang disediakan oleh buah juga berkontribusi pada kulit yang sehat dan terhidrasi. Sebuah artikel di Dermatology Practical & Conceptual (2017) membahas hubungan antara nutrisi diet dan kesehatan kulit.

  9. Menurunkan Risiko Kanker

    Fitokimia dan antioksidan dalam buah-buahan memiliki sifat antikanker yang kuat, termasuk kemampuan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dan memicu apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel-sel ganas.

    Serat juga membantu mengurangi risiko kanker kolorektal dengan mempercepat eliminasi karsinogen dari usus.

    Banyak penelitian, termasuk yang diterbitkan di Cancer Research (2014), telah menunjukkan hubungan antara asupan buah yang tinggi dan penurunan risiko beberapa jenis kanker.

  10. Meningkatkan Fungsi Otak dan Kognitif

    Antioksidan dalam buah-buahan, seperti flavonoid, dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan melindungi sel-sel otak dari kerusakan oksidatif. Nutrisi ini juga berperan dalam meningkatkan memori, konsentrasi, dan fungsi kognitif secara keseluruhan.

    Sebuah studi dalam Journal of Alzheimer's Disease (2019) menunjukkan bahwa konsumsi beri secara teratur dapat memperlambat penurunan kognitif pada lansia.

  11. Sumber Hidrasi yang Baik

    Sebagian besar buah memiliki kandungan air yang tinggi, mencapai 80-90% dari beratnya, menjadikannya sumber hidrasi yang sangat baik. Hidrasi yang cukup penting untuk semua fungsi tubuh, termasuk regulasi suhu, transportasi nutrisi, dan pelumasan sendi.

    Meskipun tidak menggantikan air minum, konsumsi buah dapat berkontribusi signifikan terhadap kebutuhan cairan harian.

  12. Mengurangi Peradangan

    Banyak buah, terutama beri dan ceri, mengandung senyawa anti-inflamasi yang kuat seperti antosianin. Peradangan kronis merupakan pemicu utama berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

    Studi dalam Nutrients (2018) menunjukkan bahwa konsumsi buah-buahan tertentu dapat secara efektif mengurangi penanda inflamasi dalam tubuh.

  13. Mendukung Kesehatan Tulang

    Beberapa buah mengandung nutrisi penting untuk kesehatan tulang, seperti vitamin K (dalam plum dan kiwi), vitamin C, dan kalium. Vitamin K berperan dalam pembentukan protein tulang, sementara kalium dapat mengurangi kehilangan kalsium dari tulang.

    Konsumsi buah-buahan ini dapat berkontribusi pada kepadatan mineral tulang yang lebih baik.

  14. Meningkatkan Kualitas Tidur

    Beberapa buah, seperti ceri tart, merupakan sumber alami melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur-bangun. Konsumsi buah-buahan ini dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dan mengatasi insomnia.

    Penelitian yang diterbitkan di European Journal of Nutrition (2012) menunjukkan bahwa jus ceri tart dapat secara signifikan meningkatkan waktu dan efisiensi tidur pada orang dewasa.

  15. Menyeimbangkan Gula Darah

    Meskipun mengandung gula alami, indeks glikemik sebagian besar buah relatif rendah hingga sedang, terutama ketika dikonsumsi utuh bersama seratnya. Serat memperlambat penyerapan gula ke dalam aliran darah, mencegah lonjakan tajam.

    Ini membuat buah menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan dengan makanan manis olahan untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.

  16. Meningkatkan Mood dan Kesehatan Mental

    Kandungan nutrisi seperti vitamin B, folat, dan antioksidan dalam buah-buahan dapat mendukung produksi neurotransmitter yang memengaruhi suasana hati, seperti serotonin dan dopamin.

    Sebuah studi dalam British Journal of Health Psychology (2019) menemukan bahwa peningkatan konsumsi buah dan sayur dikaitkan dengan peningkatan optimisme dan kesejahteraan psikologis.

  17. Detoksifikasi Alami Tubuh

    Buah-buahan yang kaya serat dan air membantu proses detoksifikasi alami tubuh dengan memfasilitasi eliminasi toksin melalui sistem pencernaan dan urin. Antioksidan juga mendukung fungsi hati, organ utama dalam proses detoksifikasi.

    Konsumsi rutin membantu menjaga organ-organ ini berfungsi secara optimal.

  18. Meningkatkan Kesehatan Gigi dan Gusi

    Beberapa buah, seperti apel, dapat bertindak sebagai "sikat gigi alami" dengan merangsang produksi air liur yang membantu membersihkan sisa makanan dan menetralkan asam. Vitamin C juga penting untuk kesehatan gusi, mencegah peradangan dan pendarahan gusi.

    Namun, penting untuk tetap menjaga kebersihan gigi setelah mengonsumsi buah karena kandungan gulanya.

  19. Mendukung Kesehatan Ibu Hamil dan Janin

    Buah-buahan menyediakan folat, vitamin C, potasium, dan serat yang sangat penting selama kehamilan. Folat berperan dalam mencegah cacat tabung saraf pada janin, sementara vitamin C mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.

    Asupan serat juga membantu mencegah sembelit, masalah umum selama kehamilan.

  20. Mengurangi Risiko Anemia

    Beberapa buah, seperti buah beri gelap dan jeruk, mengandung vitamin C yang tinggi, yang esensial untuk penyerapan zat besi non-heme (dari sumber nabati) dalam tubuh.

    Meskipun buah bukan sumber zat besi utama, kemampuannya untuk meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan lain menjadikannya penting dalam pencegahan anemia defisiensi besi.

  21. Menyediakan Energi yang Stabil

    Gula alami dalam buah (fruktosa) adalah sumber energi yang mudah diakses oleh tubuh. Namun, karena adanya serat, energi ini dilepaskan secara bertahap ke dalam aliran darah, mencegah lonjakan energi yang diikuti dengan penurunan tajam.

    Ini membantu menjaga tingkat energi tetap stabil sepanjang hari, mendukung produktivitas.

  22. Meningkatkan Kepadatan Nutrisi Diet

    Mengonsumsi buah-buahan meningkatkan kepadatan nutrisi keseluruhan dalam diet tanpa menambah banyak kalori. Ini berarti tubuh menerima lebih banyak vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif per kalori yang dikonsumsi.

    Pola makan yang kaya buah-buahan membantu memastikan bahwa semua kebutuhan nutrisi terpenuhi, mendukung kesehatan jangka panjang.

Studi Kasus dan Implikasi Nyata

Dalam konteks pengelolaan penyakit kronis, konsumsi buah memegang peranan vital. Pasien dengan hipertensi sering kali disarankan untuk meningkatkan asupan buah-buahan kaya potasium seperti pisang dan alpukat.

Potasium bekerja dengan menyeimbangkan efek natrium dalam tubuh, membantu merelaksasi dinding pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah. Ini merupakan pendekatan diet yang efektif untuk mengurangi ketergantungan pada obat-obatan tertentu.

Penderita diabetes tipe 2 juga dapat memperoleh manfaat signifikan dari integrasi buah dalam diet mereka, asalkan pemilihan jenis dan porsi dilakukan dengan bijak.

Buah-buahan dengan indeks glikemik rendah hingga sedang, seperti beri, apel, dan jeruk, merupakan pilihan yang baik karena seratnya memperlambat penyerapan gula.

Menurut Dr. Citra Dewi, seorang endokrinolog dari Rumah Sakit Pusat Nasional, "Prioritaskan buah utuh dibandingkan jus buah, karena serat dalam buah utuh sangat penting untuk kontrol glikemik." Hal ini menunjukkan pentingnya bentuk konsumsi buah.

Aspek pencegahan kanker juga sering menjadi sorotan dalam diskusi manfaat buah. Studi epidemiologi telah berulang kali menunjukkan korelasi terbalik antara asupan buah yang tinggi dan insiden beberapa jenis kanker, termasuk kanker kolorektal dan kanker paru-paru.

Senyawa fitokimia seperti antosianin dan karotenoid yang melimpah dalam buah memiliki sifat antikarsinogenik. Mekanismenya melibatkan penghambatan proliferasi sel kanker dan induksi apoptosis.

Pada populasi lansia, manfaat buah meluas hingga ke kesehatan kognitif. Penurunan fungsi kognitif adalah kekhawatiran umum seiring bertambahnya usia.

Antioksidan dan anti-inflamasi yang ditemukan dalam buah-buahan, khususnya beri, dapat melindungi neuron dari kerusakan oksidatif dan peradangan.

Sebuah penelitian jangka panjang yang dilakukan di Harvard School of Public Health mengindikasikan bahwa konsumsi beri secara teratur dapat menunda penurunan kognitif hingga 2,5 tahun pada wanita.

Bagi anak-anak, buah bukan hanya sumber nutrisi tetapi juga berperan dalam pembentukan kebiasaan makan yang sehat sejak dini.

Menyediakan berbagai jenis buah dalam pola makan anak dapat membantu memastikan asupan vitamin dan mineral yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal.

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi buah sejak kecil cenderung berlanjut hingga dewasa, mengurangi risiko penyakit terkait gaya hidup di kemudian hari. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan.

Dalam konteks pemulihan dari penyakit atau operasi, buah dapat mempercepat proses penyembuhan. Vitamin C, yang melimpah dalam banyak buah, sangat penting untuk sintesis kolagen, protein yang diperlukan untuk perbaikan jaringan.

Selain itu, kandungan air dan serat membantu menjaga hidrasi dan mencegah sembelit, masalah umum pada pasien yang kurang aktif. Dengan demikian, buah menjadi bagian integral dari diet pemulihan.

Atlet dan individu dengan tingkat aktivitas fisik tinggi juga sangat diuntungkan dari konsumsi buah. Buah menyediakan karbohidrat sederhana yang cepat diubah menjadi energi, ideal untuk pengisian ulang glikogen setelah latihan intens.

Kandungan potasium membantu mencegah kram otot, sementara antioksidan membantu mengurangi kerusakan otot akibat stres oksidatif. Menurut Dr. Andi Wijaya, seorang ahli gizi olahraga, "Buah adalah bahan bakar alami yang optimal untuk performa dan pemulihan atlet."

Isu ketahanan pangan global juga dapat diatasi sebagian melalui peningkatan produksi dan konsumsi buah lokal. Diversifikasi pertanian menuju tanaman buah dapat meningkatkan keragaman diet dan mengurangi ketergantungan pada beberapa komoditas pokok saja.

Hal ini juga dapat mendukung ekonomi lokal dan mengurangi jejak karbon transportasi makanan. Dengan demikian, manfaat buah tidak hanya terbatas pada individu, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan lingkungan.

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua buah memiliki profil nutrisi yang sama, dan porsi yang tepat adalah kunci.

Misalnya, buah-buahan kering, meskipun padat nutrisi, memiliki konsentrasi gula dan kalori yang lebih tinggi per porsi dibandingkan buah segar. Jus buah tanpa serat juga tidak memberikan manfaat serat yang sama dengan buah utuh.

Oleh karena itu, edukasi mengenai pilihan buah yang cerdas dan porsi yang tepat sangat krusial untuk memaksimalkan manfaatnya.

Tips dan Detail Konsumsi Buah

Untuk memaksimalkan manfaat kesehatan dari buah-buahan, beberapa strategi konsumsi dapat diterapkan. Pertimbangan ini mencakup variasi jenis buah, metode persiapan, serta waktu konsumsi yang optimal.

  • Konsumsi Beragam Jenis Buah

    Setiap jenis buah menawarkan profil nutrisi dan fitokimia yang unik. Mengonsumsi berbagai warna buah (misalnya merah, oranye, kuning, hijau, ungu) memastikan asupan spektrum antioksidan dan vitamin yang lebih luas.

    Variasi ini penting untuk mendapatkan semua nutrisi esensial yang dibutuhkan tubuh. Contohnya, buah beri kaya antosianin, sementara jeruk kaya vitamin C, dan mangga kaya vitamin A.

  • Prioritaskan Buah Utuh daripada Jus Buah

    Meskipun jus buah mengandung vitamin dan mineral, proses pembuatannya seringkali menghilangkan serat penting yang terdapat pada kulit dan pulp buah. Serat adalah kunci untuk menjaga rasa kenyang, mengontrol gula darah, dan melancarkan pencernaan.

    Konsumsi jus dalam jumlah besar juga dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat karena tidak adanya serat. Oleh karena itu, buah utuh selalu menjadi pilihan yang lebih unggih.

  • Cuci Buah dengan Bersih

    Sebelum dikonsumsi, buah-buahan harus dicuci bersih di bawah air mengalir untuk menghilangkan residu pestisida, kotoran, dan mikroorganisme berbahaya.

    Penggunaan sabun khusus buah atau larutan cuka encer dapat menjadi pilihan tambahan, terutama untuk buah yang tidak dikupas. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan keamanan pangan dan mencegah kontaminasi.

  • Perhatikan Porsi Konsumsi

    Meskipun sehat, buah tetap mengandung gula alami (fruktosa) dan kalori. Konsumsi berlebihan, terutama buah-buahan tinggi gula seperti mangga atau pisang, dapat berkontribusi pada asupan kalori berlebih atau lonjakan gula darah pada individu tertentu.

    Rekomendasi umum adalah 2-4 porsi buah per hari, disesuaikan dengan kebutuhan kalori dan kondisi kesehatan individu. Moderasi adalah kunci.

  • Kombinasikan dengan Sumber Nutrisi Lain

    Menggabungkan buah dengan sumber protein atau lemak sehat, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, atau yogurt, dapat memperlambat penyerapan gula dan meningkatkan rasa kenyang. Misalnya, mengonsumsi apel dengan sedikit selai kacang atau beri dengan yogurt Yunani.

    Kombinasi ini tidak hanya meningkatkan profil nutrisi tetapi juga membantu menjaga stabilitas energi.

Bukti Ilmiah dan Metodologi Penelitian

Manfaat konsumsi buah telah didukung oleh berbagai penelitian ilmiah dengan desain metodologi yang beragam.

Salah satu studi kohort prospektif yang signifikan, yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine pada tahun 2012, melibatkan lebih dari 100.000 partisipan yang diikuti selama beberapa dekade.

Penelitian ini menggunakan kuesioner frekuensi makanan yang divalidasi untuk menilai asupan buah dan sayur, kemudian mengkorelasikannya dengan insiden penyakit kardiovaskular dan kanker.

Temuan menunjukkan bahwa asupan buah yang lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.

Studi intervensi acak terkontrol juga memberikan bukti kuat mengenai dampak langsung konsumsi buah. Misalnya, sebuah penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition pada tahun 2015 melibatkan 200 individu dengan sindrom metabolik.

Partisipan secara acak dibagi menjadi kelompok intervensi yang mengonsumsi tambahan tiga porsi buah per hari dan kelompok kontrol.

Setelah 12 minggu, kelompok intervensi menunjukkan penurunan signifikan dalam tekanan darah sistolik, lingkar pinggang, dan kadar kolesterol LDL, mengindikasikan perbaikan parameter kesehatan metabolik.

Meskipun bukti tentang manfaat buah sangat kuat, terdapat beberapa pandangan yang menyoroti potensi kekhawatiran, terutama terkait kandungan gula dalam buah.

Beberapa pihak berpendapat bahwa fruktosa dalam buah dapat berkontribusi pada masalah kesehatan seperti resistensi insulin atau penambahan berat badan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah sangat besar atau dalam bentuk jus.

Namun, pandangan ini seringkali tidak membedakan antara fruktosa alami dalam buah utuh dengan seratnya dan fruktosa yang ditambahkan dalam minuman manis atau makanan olahan.

Basis dari pandangan yang berlawanan ini seringkali berasal dari studi yang mengisolasi efek fruktosa murni atau mengamati konsumsi jus buah tanpa mempertimbangkan matriks makanan utuh.

Konsensus ilmiah saat ini menekankan bahwa serat dalam buah utuh secara signifikan memodifikasi penyerapan fruktosa, mencegah lonjakan gula darah yang tajam dan memberikan efek metabolisme yang jauh berbeda dibandingkan dengan gula tambahan.

Organisasi kesehatan global terus merekomendasikan konsumsi buah utuh sebagai bagian integral dari diet sehat.

Rekomendasi

Berdasarkan bukti ilmiah yang komprehensif, integrasi buah-buahan ke dalam pola makan sehari-hari sangat dianjurkan untuk mendukung kesehatan optimal dan pencegahan penyakit.

Masyarakat disarankan untuk mengonsumsi setidaknya 2-4 porsi buah utuh setiap hari, dengan penekanan pada variasi jenis dan warna untuk memastikan spektrum nutrisi yang lengkap.

Buah segar atau beku tanpa tambahan gula sebaiknya diprioritaskan dibandingkan jus buah atau buah kalengan dengan sirup.

Penting untuk mencuci buah dengan bersih sebelum dikonsumsi guna meminimalkan risiko kontaminasi.

Bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes, konsultasi dengan ahli gizi disarankan untuk menentukan jenis dan porsi buah yang paling sesuai, meskipun buah utuh umumnya aman dan bermanfaat.

Edukasi publik mengenai pentingnya serat dalam buah utuh dan perbedaan antara gula alami buah dengan gula tambahan juga perlu terus ditingkatkan.

Kesimpulan

Buah-buahan merupakan komponen esensial dari diet sehat, menyediakan nutrisi vital, serat, dan antioksidan yang berkontribusi pada berbagai manfaat kesehatan, mulai dari peningkatan kekebalan tubuh hingga pencegahan penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Konsumsi buah secara teratur dan dalam bentuk utuh telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kualitas hidup dan mendukung fungsi fisiologis tubuh.

Meskipun ada kekhawatiran terkait kandungan gula, serat dalam buah utuh berperan sebagai penyeimbang yang penting.

Penelitian di masa depan dapat lebih lanjut mengeksplorasi peran spesifik fitokimia dalam buah tertentu terhadap mekanisme penyakit yang kompleks, serta bagaimana variasi genetik individu memengaruhi respons terhadap konsumsi buah.

Selain itu, studi intervensi jangka panjang yang melibatkan populasi yang lebih beragam dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak konsumsi buah terhadap kesehatan mental dan mikrobioma usus.

Upaya berkelanjutan untuk mempromosikan konsumsi buah sebagai bagian dari gaya hidup sehat sangat krusial untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara global.